Sunday to Saturday: Where are they from?

Memasuki tahun 2018, siap memulai tahun yang baru hari yang baru. Namun sebelum itu, mari kita coba menoleh ke belakang, pernahkan kita penasaran dengan asal-usul nama-nama hari dalam seminggu itu? Dari mana konsep ‘hari’ berasal? Kenapa pula ada 7 hari dalam seminggu?
Menemukan Waktu dalam Sehari
Bangsa Mesir Kuno mengenalkan konsep waktu melalui pergerakan jam matahari yang membagi antara saat terang dan gelap. Sayangnya, tanpa adanya matahari bangsa Mesir Kuno kesulitan membagi waktu. Sehingga mereka akhirnya menggunakan 12 bintang, hasil pengamatan para ahli astronomi Mesir Kuno sebagai tanda saat langit gelap.
Pembagian waktu kedalam 12 bagian pada hari gelap lalu disamakan dengan saat hari terang, menciptakan konsep 24 jam dalam sehari yang berlaku hingga saat ini. Di waktu yang sama, matematikawan Mesir Kuno juga tengah mengembangkan sistem bilangan duodesimal (basis 12), sehingga sistem bilangan ini digunakan dalam setiap lini kehidupan mereka.
Konsep ini terus dikembangkan oleh berbagai bangsa dengan modifikasi ilmu pengetahuan masing-masing yang dimiliki. Contohnya, bangsa Romawi Kuno menghitung waktu dalam satu hari dari pukul tengah malam hingga tengah malam kembali. Pembuatan kalender Masehi menggunakan perhitungan ini untuk menentukan harinya. Sedangkan bangsa Arab menghitung satu hari dari matahari terbenam hingga terbenam lagi yang kemudian digunakan dalam kalender Hijriah.
Tujuh Hari dan Tujuh Benda Langit

sejarah hari
Pada zaman Romawi Kuno, terutama orang-orang Babilonia di Mesopotamia, menyebutkan hari-hari dengan istilah hari pertama, hari kedua, hari ketiga, hingga hari ketigapuluh. Mereka menggunakan konsep ini untuk menentukan hari pasar yang jatuh pada hari kelima atau hari kesepuluh. Hal ini, tentunya tidak efisien untuk menentukan hari-hari khusus seperti hari pasar dan hari keagamaan. Dan lagi, ada terlalu banyak hari apabila diberikan nama satu persatu.
Kemudian disepakati adanya 7 hari dalam satu minggu dalam satu bulan, agar memudahkan orang-orang Babilonia dalam menentukan hari pasar dan hari keagamaan. Angka 7 ini tidak hanya berasal dari perhitungan astronomi, tapi berasal dari kepercayaan lama soal keberadaan 7 benda langit yang mengelilingi bumi.
Mereka percaya bahwa, bumi sebagai pusat semesta alam dengan tujuh benda langit yang mengelilinginya merupakan dewa-dewa mereka yang berpengaruh besar pada keberlangsungan kehidupan di bumi. Pengaruh para dewa benda langit ini bergantian dari jam ke jam dengan urutan dari yang terjauh hingga terdekat.
Tujuh benda langit tersebut juga kerap dikaitkan dengan kepercayaan lama akan adanya tujuh lapisan langit. Bulan merupakan benda langit yang paling cepat mengelilingi bumi, sehingga dianggap berada di lapisan langit pertama karena berjarak paling dekat. Lalu menyusul Merkurius (Bintang Utarid) atau Dewa Woden di lapisan langit kedua.

Di lapisan langit ketiga, ada Venus (Bintang Kejora) atau dewi kecantikan Freyja, Matahari berada di lapisan langit ke empat, dan Mars (Bintang Marikh) atau dewa peperangan Tiw di langit kelima. Kemudian di langit keenam dan ketujuh, ada Jupiter (Bintang Musytari) atau dewa petir dan Saturnus (Bintang Siarah).
Lahirnya Nama-nama Hari

sejarah hari
Dalam menentukan nama-nama hari, orang-orang Babilonia kembali melakukan pengamatan sesuai dengan pengetahuan yang mereka miliki. Tepat pada tengah malam, Saturnus dianggap berpengaruh pada kehidupan manusia sehingga hari pertama disebut Hari Saturnus. Lalu selang waktu 24 jam kemudian, orang-orang Babilonia menganggap Matahari adalah benda langit yang selanjutnya berpengaruh, sehingga hari selanjutnya bernama Hari Matahari. Hal ini berlanjut ke Hari Bulan, Hari Mars, Hari Merkurius, Hari Jupiter, dan yang terakhir Hari Venus.
Nama-nama hari dari peradaban Romawi Kuno ini mulai diadaptasi oleh peradaban lainnya. Orang-orang Eropa mengacu pada penamaan hari ini untuk menamai hari-hari dalam bahasa mereka. Seperti dalam bahasa Inggris, hari Saturnus menjadi Saturday. Matahari menjadi Sunday, Monday dari asal kata Bulan, Tuesday dari Tiw’s day atau hari Mars, Wednesday dari Woden’s day atau hari Merkurius, Thor’s day atau hari Jupiter menjadi Thursday dan Freyja’s day atau hari Venus menjadi Friday. Hal yang sama juga dilakukan beberapa negara Eropa lainnya seperti Perancis, Jerman, Portugis, Italia, dan lainnya.
Berbeda dengan cara orang Eropa, bangsa Arab memberi nama-nama hari sesuai hitungan angka. Ahad berarti satu, Itsnaini yang berarti dua, Ats-tsalaatsa berarti tiga, Al Arba’aa artinya empat, Al Khamsatun artinya lima, Al Jumu’ah yang berarti Hari Ibadah, dan As-Sab’atun yang berarti hari berhenti atau hari akhir. Beberapa negara kemudian mengikuti aturan ini, salah satunya Indonesia dengan Minggu/Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, dan Sabtu.

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat