Selandia Baru, Negeri Para Petualang Dunia

Deretan pegunungan berapi yang masih aktif, gunung-gunung berselimut salju, geyser, sungai es, hingga kolam lumpur menjadi daya tarik Selandia Baru (New Zealand). Wajah alamnya mencerminkan keelokan alam masa lampau, sebagai wujud alam berusia lebih dari 500 juta tahun yang merupakan bagian dari benua kuno, Gondwana.

Tanah Maori

Keberadaan negara kepulauan di barat daya Samudera Pasifik ini tak terlepas dari jasa Bangsa Polinesia, yang menemukan kepulauan ini untuk pertama kalinya pada tahun 950 M. Bangsa ini menetap di pulau temuannya dan, belakangan, dikenal sebagai Suku Maori. Kepulauan yang hampir sebagian besar wilayahnya diselimuti salju ini, kemudian diberi nama Aoteaora yang berarti “tanah awan putih panjang”.

Kemudian, tanah bangsa Maori ini ditemukan oleh seorang penjelajah berkebangsaan Belanda, Abel Janszoon Tasman (1642) dan dinamakan Nieuw Zeeland—yang diambil dari nama sebuah provinsi di Belanda, Zeeland. James Cook kembali menemukan pulau ini tahun 1768 dan menamakannya New Zealand.

Wilayah kepulauan Selandia Baru terdiri dari dua pulau besar, yaitu Pulau Utara dan Pulau Selatan, yang dipisahkan Selat Cook sepanjang 20 km. Kedua pulau ini menampilkan karakteristik alam yang berbeda. Jika panorama pantai nan indah bisa dinikmati di Pulau Utara yang bercurah hujan tinggi, maka gunung berselimut salju, geyser, dan sungai es menjadi daya tarik Pulau Selatan.

Pesona flora dan fauna juga mampu memikat para pelancong. Selandia Baru memiliki keragaman flora dan fauna yang unik dan langka. Salah satu burung asal negeri ini yang sangat terkenal sekaligus menjadi ikon adalah burung kiwi, seperti halnya buah kiwi.

Selandia Baru pun memiliki Taman Nasional yang melindungi hewan purba bernama Tuatara, pohon langka—Rimu dan Totara, serta pohon raksasa tertua—Kauri. Seluruh flora dan fauna langka tersebut dilindungi pemerintah dan menjadi salah satu objek wisata bagi para wisatawan.

 

Pulau Utara

Wellington adalah ibukota negara yang merupakan bagian dari Pulau Utara. Selain pusat administrasi dan politik, Wellington juga menjadi pusat budaya yang tampak mencolok dengan pelabuhannya yang luas dan dataran berbukit nan dramatis. Dengan embusan angin kencang hampir sepanjang tahun, Wellington pun dikenal sebagai Kota Angin atau Windy City.

Berkunjung ke Ibukota ini, tak lengkap rasanya jika tidak menjelajahi setiap sudutnya. Te Papa Museum bisa dimasukkan dalam daftar destinasi wisata Anda. Museum ini memiliki beragam koleksi budaya dan sejarah panjang Selandia Baru. Salah satu koleksi yang menarik perhatian adalah cumi-cumi raksasa. Jika Anda menyukai keindahan bunga atau ingin melihat langsung burung kiwi yang tersohor, Botanic Garden dan Karori Sanctuary adalah tempatnya.

Masih di Pulau Utara, Auckland merupakan kota terbesar di Selandia baru. Suku Maori menyebut kota ini dengan sebutan Tamaki-Makau-Rau. Di kota ini terdapat bandara internasional terbesar di Selandia Baru yang juga menjadi gerbang masuk utama ke Negeri Kiwi ini.

Menariknya, Anda hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk pergi ke berbagai tempat di kota ini—berlayar ke pulau, trekking di taman nasional, menikmati keindahan volcano, mencicipi kenikmatan anggur di langsung dari kebun, merasakan hidup di alam liar, atau berjemur di pantai berpasir hitam. Kota yang berada di atas lahan vulkanik nan luas ini memiliki panorama pegunungan berapi yang masih aktif. Tak heran, bila Auckland menjadi kota impian bagi kaum pelancong.

 

Pulau Selatan

Di ujung utara Pulau Selatan, tepatnya di Kota Nelson, Anda dapat menikmati eksotisme seni, tradisi, dan budaya Suku Maori. Lebih dari 350 pekerja seni dan perajin Maori berdiam di Nelson. Karena itu, kota di tepian Teluk Tasman ini dijuluki kota seni dan kerajinan yang menggelar ajang seni bergengsi setiap tahunnya, Nelson Art Festival.

Komunitas kreatif di Nelson memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk bereksperimen di dunia seni dengan mengadakan workshop seni keramik, seni pahat tulang, seni patung, serta seni tenun dan memasak khas Suku Maori.

Selain itu, Nelson juga menyediakan obyek-obyek alam bagi para petualang. Seperti, skywire, kayak laut, panjat tebing, whitewater rafting, bersepeda gunung, berlayar, trekking di taman nasional, atau berenang bersama anjing laut. Berpetualang semakin menyenangkan di tengah cuaca yang selalu cerah karena Nelson adalah kota tercerah di Selandia Baru, bahkan di musim dingin sekalipun. Wilayah ini disinari lebih dari 2.500 jam sepanjang tahunnya.

Jika Auckland merupakan kota terbesar di Selandia Baru, Christchurch adalah kota terbesar di Pulau Selatan. Ciri khas menonjol dari kota ini adalah keindahan alam Taman Nasional serta terdapat banyak taman dan kebun sehingga dijuluki Garden City. Christchurch memiliki Taman Nasional Aoraki Mount Cook yang menyajikan keindahan lukisan alam.

Taman Nasional ini memiliki 19 puncak dengan ketinggian lebih dari 3.000 m dan Aoraki Mount Cook adalah puncak tertingginya. Es dan bebatuan mendominasi wilayah ini dengan 40% wilayahnya tertutup gletser. Aoraki Mount Cook menjadi tempat singgah favorit para pendaki dan hikers.

Christchurch juga menawarkan rute wisata The Alone Pacific Triangle. Rute ini mencakup tiga tempat yang sayang untuk dilewatkan, yaitu  wisata kuliner di Waipara, ber-spa ria di Hanmer Springs, serta menyaksikan aksi dan industri ikan paus di Kaikoura.

Di antara ketiganya, Anda tetap disuguhkan pemandangan alam yang memesona. Berjarak 85 km dari pusat kota Christchurch, Pelabuhan Akaroa dan Semenanjung Banks menyuguhkan keindahan area erupsi vulkanik yang terjadi ribuan tahun silam.

Pulau Selatan pun memiliki kota tua nan eksotis, Dunedin, 400 km di selatan Christchurch. Kota yang dulunya bernama Otago ini memadukan keindahan budaya, arsitektur, dan alam liar di semenanjung Otago. Semenanjung ini merupakan habitat hewan-hewan langka yang dilindungi, seperti hoiho (penguin mata kuning), albatross, singa laut, dan anjing laut. Keberadaan Universitas Otago yang didirikan tahun 1869 mengokohkan reputasi Dunedin sebagai kota pusat pendidikan.

 

Kota Petualang Dunia

Queenstown di Pulau Selatan terkenal dengan julukan ‘Adventure Capital of The World’. Memang, kota ini bak surga bagi petualang yang gemar melakukan kegiatan-kegiatan yang memicu adrenalin. Wisata jenis ini ini mulai dikenal sejak tahun 1970-an dengan dibukanya wahana jet boating.

Di tahun 1988, AJ Hackett dan Henry van Asch memperkenalkan jenis olahraga ekstrem baru, yakni bungy jumping. Jembatan Kawarau setinggi 43 m di atas sungai merupakan wahana bungy jumping komersial pertama di dunia. Antusiasme terhadap bungy jumping membuat olahraga ini kian populer. Terbukti, dengan dibukanya lokasi bungy jumping kedua dan ketiga di Queenstown, yaitu Skippers Bridge setinggi 87 m) dan The Ledge di Bobs Peak.

Selain dikenal sebagai Kota Bungy Jumping, Queenstown juga menawarkan jenis olahraga ekstrem lainnya, seperti sky diving, white-water rafting, parasailing, hand gliding, river surfing, abseiling, dan rock climbing. Kota lainnya, seperti Lake Taupo dan Rotorua di Pulau Utara, menjadi alternatif untuk melakukan aktivitas yang penuh tantangan. Misalnya saja, black-water rafting di Waitomo Caves dengan menelusuri kegelapan gua hanya diterangi cahaya matahari yang samar-samar masuk dari lubang-lubang udara di gua.

Obyek-obyek wisata nan menawan memang menjadi alasan utama memasukkan Selandia Baru dalam daftar ‘must be visited places’. Disamping itu, kemudahan akses dan fasilitas lengkap juga memberikan kenyaman bagi para wisatawan yang singgah di Negeri Kiwi. Bepergian di negeri ini sangat mudah dan dapat ditempuh dalam waktu dekat.

Berbagai transportasi tersedia, mulai dari sepeda, bis, kereta, hingga pesawat. Jalan-jalannya pun berada dalam kondisi baik. Begitu pula dengan ragam akomodasi yang tersedia. Di sini, Anda dapat memilih tempat menginap sesuai selera dan, tentu saja, kantong Anda. Negeri ini menyuguhkan sejuta pesonanya kepada setiap pelancong yang datang.  (Oleh Dyota Tenerezza)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat