Riwayat Helicak Yang Tergerus Zaman

Dewasa ini, kebanyakan masyarakat Jakarta tak lagi mengenal Helicak, angkutan umum yang penah populer pada masanya. Meski telah punah, riwayat Helicak sangat menarik ditelusuri.

Sejarah mencatat, pada 1970, warga Jakarta menggunakan angkutan umum sekitar 70%. Setelah 40 tahun berlalu, survey 2010 menunjukan peralihan yang sangat signifikan. Pengguna angkutan umum beralih ke kendaraan pribadi hingga mengakibatkan pengguna angkutan umum hanya tersisa sebesar 17%.

Sejalan perkembangan  modernisasi, banyak transportasi yang mengalami modifikasi dan perubahan. Bahkan, ada juga kendaraan masa silam yang telah menghilang digulung zaman, termasuk Helicak.  Helicak sempat menjadi primadona angkut umum di Indonesia, khususnya di Jakarta. Kini, angkutan unik tersebut tak lagi terlihat lalu lalang.

“Helitjak”, Helikopter Becak

Helicak adalah alat transportasi tradisional roda tiga yang banyak ditemukan di kota-kota di Indonesia, khususnya di Jakarta di tahun 1970-an. Awalnya, Helicak dikembangkan sebagai pengganti becak yang telah dilarang sebelumnya oleh Pemerintah DKI kala itu.

Asal usul sebutan Helicak bermula dari gabungan kata “helikopter” dan “becak”. Saat itu, nama tulisan Helicak masih menggunakan ejaan lama, yaitu “Helitjak”. Julukan Helicak merupakan representasi bentuk fisik angkutan yang menyatukan konsep helikopter dan becak. Bedanya dengan becak, bagian depan Helicak tertutup dan digerakan oleh mesin. Secara sederhana, bentuk kabin Helicak sangat mirip dengan kabin Helikopter. Sementara, secara fungsi, angkutan ini hanya berkapasitas dua orang penumpang yang sama seperti Becak.

Kendaraan tersebut menggunakan mesin dan body utama berasal dari skuter trike Tri Lambretta yang didatangkan langsung dari Italia. Spesifikasi mesin Helicak berkekuatan 150 CC. Helicak dilengkapi dengan sebuah kabin dengan kerangka besi dan dinding dari serat kaca (fiber glass). Fungsi kabin dimaksudkan untuk melindungi penumpang dari panas, hujan, dan debu. Sedangkan pengemudinya berada dibelakang tanpa pelindung seperti kabin di bagian depan.

Masa populer Helicak kala itu memiliki bermacam-macam warna. Adapun beberapa warna tersebut diantaranya, merah, oranye, biru, dan hijau. Bahkan, ada juga yang berwarna hitam dan putih.

Pertama kali diluncurkan

Peluncuran penggunaan Helicak dilatarbelakangi oleh penghapusan penggunaan becak yang dianggap tak manusiawi.  Pada masa  pemerintahan Gubernur Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jakarta, Helicak mulai populer sebagai solusi pengganti becak.

Helicak pertama kali diluncurkan pada 24 Maret 1971 sebanyak 400 unit. Per unit Helicak dijual seharga Rp 400 ribu. Bahkan, pada 1979, Helicak diimpor terakhir kali dengan harga Rp 525 ribu per unit.

Saat pertama kali didatangkan, Helicak dipamerkan di Jakarta Fair (JF)– sekarang lebih dikenal dengan nama Pekan Raya Jakarta (PRJ). Kala itu JF diadakan di lapangan Monumen Nasional, Gambir, Jakarta Pusat. Dalam pameran tersebut, pengunjung diperbolehkan mencoba naik  Hlicak. Hanya dengan membayar seharag karcis saat itu, pengunjung diajak berkeliling arena JF.

Menuai kesuksesan di JF, Pemerintah daerah pun mencoba menampilka Helicak di jalan-jalan Jakarta. Hingga pada akhirnya poluler menjadi angkutan umum masyarakat Jakarta kala itu.

Sejak awal dicetuskan, keberadaan Helicak merupakan pengganti becak di Jakarta.  Meski demikian, angkutan tersebut pernah dicoba untuk dikembangkan di Salatiga, Jogyakarta, dan Surabaya .

Menghilang Dari Peredaran

Sejak diluncurkan oleh Ali Sadikin pada1971, popularitas Helicak tak sanggup bertahan lama. Salah satu penyebabnya adalah perawatan Helicak yang cukup sulit.

Selain itu, alasan keselamatan, Helicak dianggap tidak aman bagi penumpang menjadi pertimbangan pengembangannya sebagai transportasi massal. Pasalnya, penumpang Helicak duduk di kabin bagian depan. Jika terjadi kecelakaan, yang paling berbahaya adalah penumpang. Hal tersebut menjadi bahan pertimbangan Pemda DKI Jakarta untuk mengembangkan Helicak ketika itu.

Dengan demikian, kebijakan Pemerintah DKI Jakarta dalam menyediakan angkutan rakyat terkesan belum terfokus dan konsisten. Sehingga kebijakan tersebut menyebabkan jumlah Helicak sebanyak 400 buah saat pertama kali diluncurkan, tidak dikembangkan lebih lanjut.

Ditambah, beberapa pengusaha transportasi lebih memilih menggunakan bajaj yang belakangan muncul menyaingi Helicak. Akibatnya angkutan roda tiga bermesin ini pun terpinggirkan dan pelan-pelan menghilang dari jalan-jalan di ibu kota.

Pada akhirnya, keputusan melarang Helicak untuk beroperasi dikeluarkan Pemda DKI di tahun 1987.  Dampaknya, sekitar akhir 1990-an, Helicak hanya dapat dijumpai di pertigaan antara Jalan Imam Bonjol menuju ke arah kawasan Sabang, Jakarta Pusat. Kini kendaraan yang sempat  membantu transportasi jarak pendek antar tempat di Jakarta ini telah punah menghilang dari peredaran. (Oleh: Candra Fivetya)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat