Rickshaw Di Berbagai Belahan Dunia

Di tengah gempuran teknologi transportasi pada abad ini, membuat kita terfokuskan pada alat transportasi futuristik. Sehingga ada alat transportasi yang kalah pamor dan mulai terlupakan oleh kita, salah satunya becak atau rickshaw.  

Saat ini rickshaw atau yang biasa kita kenal becak, bukanlah sebuah alat transportasi tradisional yang sederhana seperti sejak zaman dulu. Dengan seiring waktu, rickshaw pun berkembang menjadi berbagai bentuk, dari cycle rickshaw, auto rickshaw dan lain-lain. Meskipun dalam jumlah populasinya sudah hampir punah. Akhir-akhir dekade ini rickshaw tak lagi dioperasikan dengan cara ditarik melainkan dikayuh (cycle-rickshaw).

Di Jepang becak beroda 2 ini  diberi nama “Jinrikisha” (人力車, 人 jin = orang, 力 riki = tenaga, 車 sha = kendaraan), yang berarti “kendaraan tenaga manusia”. Lain halnya di  Amerika moda transportasi sejenis ini beroda tiga dan disebut Paddycab. Sementara becak ala Orlando dirancang dengan desain seunik mungkin. Layaknya seperti sepeda gunung yang diberi sebuah sambungan rangka besi beroda dua dibagian belakangnya.

Berbeda lagi, becak di Jerman termodifikasi cukup modern. Dengan desain yang sangat menarik dan diberi julukan becak Velotaxi. Bentuknya serupa dengan  Bemo yang ada di Indonesia yang mana hanya dapat dinaiki oleh dua orang penumpang dewasa saja. Di Inggris pun moda transportasi dengan bantuan tenaga manusia ini didesain dengan unik menggunakan sepeda dayung. Kelebihan lainnya, memiliki atap di atas  gerobak tersebut sehingga dapat melindungi penumpang dari sengat matahari dan juga hujan yang turun. Lain halnya dengan India, dimana terdapat gerobak dibelakangnya yang dapat mengangkut penumpang lebih banyak.

Populasi Rickshaw Hampir Punah

Setelah mengalami dilematis yang cukup panjang, akhirnya rickshaw pun mulai punah. Akibat dari penetapan aturan terkait dengan pelarangan rickshaw di beberapa negara. Bahkan, hingga beralih fungsi menjadi bagian dari sarana wisata saja.  Misalnya, mulai 1870, rickshaw dilarang beroperasi di seluruh jalan-jalan di negeri Tiongkok. Hingga berdampak parah terhadap eksistensi rickshaw di sana. Bahkan, pada tahun 1950-an kendaraan yang ditarik manusia ini menghilang dari bumi Jepang.

Sumber online mengisyaratkan bahwa kehadiran rickshaw di Tiongkok sudah hampir punah. Data dari pemerintah Hong Kong memaparkan hanya terdapat tiga penarik rickshaw yang secara resmi mendapatkan lisensi dari pemerintah. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan sebelumnya, yang hanya ada dua orang.

Dengan melihat data tersebut, tentu bisa dibayangkan begitu sulitnya untuk bisa menemukan seorang penarik rickshaw di Hong Kong yang saat ini. Salah seorang penarik rickshaw yang bisa dijumpai di Hong Kong bernama Mr. Hung. Pria yang sudah berumur ini mengaku telah berprofesi sebagai seorang penarik rickshaw lebih dari 30 tahun dan semata-mata untuk keperluan wisata.  Anda dapat menemukan Mr. Hung di Findlay Road, daerah yang berada di kawasanThe Peak dan menjadi lokasi wisata yang menarik untuk bisa menyaksikan Hong Kong dari ketinggian. Selain itu, di sini Anda juga dalapt menemukan Lions Pavilion. Di sini, Anda tak hanya akan menemukan Mr. Hung, tapi juga rekan seperjuangan lainnya yang sama-sama menawarkan jasa penarik rickshaw.

Rickshaw Mewah ala Tiongkok

Di balik semakin punahnya rickshaw tradisional yang ditarik oleh manusia di Tiongkok. Ada hal yang menarik juga dari Cycle-rickshaw-nya. Jika anda mengunjungi Tiongkok, anda akan melihat bentuk-bentuk rickshaw yang mewah.

Anda tentu tahu mobil Mini Cooper. Mobil mahal ini ternyata menjadi alat angkutan umum di China. Mobil mini nan mewah disulap menjadi cycle-rickshaw di kota Beijing. Bagian depan mobil Mini Cooper sengaja dipotong, sehingga hanya tinggal bagian belakangnya saja. Bagian belakang inilah yang dimanfaatkan untuk tempat penumpang cycle-rickshaw. Dapat kita rasakan bagaimana nyamannya menaiki becak ala China ini dengan interior dan jok empuk nan mewah milik Mini Cooper.

Selain itu, cycle-rickshaw ini juga miliki sunroof di atas bangku penumpang. Bagian belakang samping bodi mobil ini juga sedikit diberi ornamen oriental, yang memberikan kesan mewah. Uniknya, meski pedicab tersebut menggunakan body Mini Cooper, namun tetap tidak menggunakan mesin.  Alat transportasi ini masih digerakkan oleh tenaga manusia yang menggunakan sepeda sebagai jokinya.

Jadi eksistensi rickshaw dapat tetap kita lestarikan dengan fungsi yang berbeda. Meski tak menjadi alat transportasi utuma yang dapat diandalkan, setidaknya memiliki peran sebagai bagian dari pendukung wisata.

(Oleh: Candra Fivetya)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat