Pertanian Organik, Serap Emisi Karbon di Udara

Pertanian organik disebut-sebut sebagai solusi ampuh untuk mengurangi emisi karbon. Kemampuannya menyerap karbon yang terlepas di udara mampu mengurangi emisi karbon hingga 50%. Pertanian organik pun mulai marak dikembangkan sebagai bentuk Revolusi Hijau yang akan menggantikan sistem pertanian konvensional di seluruh dunia.

Konsumsi Energi Pertanian

Perkembangan sektor pertanian yang cukup pesat, ternyata, tak terlepas dari konsumsi energi fosil. Dimana, penggunaan energi fosil pada pertanian (konvensional) mampu meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan. Bahkan, penggunaan energi fosil dalam pertanian sudah sampai pada taraf ketergantungan. Hal ini berdasarkan laporan The Royal Society—sebuah organisasi ilmu pengetahuan di Inggris, yang menyebutkan bahwa ketergantungan pertanian terhadap energi fosil terjadi secara langsung maupun tidak langsung.

Penggunaan energi fosil secara langsung mencakup penggunaan bahan bakar untuk mesin-mesin pertanian. Sedangkan, penggunaan secara tidak langsung adalah sebagai bahan bakar pada produksi pupuk dan pestisida. Ternyata, produksi pupuk ini merupakan konsumsi energi fosil terbesar pada pertanian konvensional. Konsumsi energi fosil—terutama batu bara dan gas alam dalam produksi pupuk nitrogen setara dengan setengah kebutuhan energi pertanian.

Pada dasarnya, pertanian mencakup sistem pangan yang tidak terbatas pada produksi hasil pertanian saja. Melainkan, ada proses setelah produksi hasil tani, seperti pengepakan, distribusi, pemasaran, konsumsi, hingga pembuangan dan pengolahan sampah. Hal ini pun berkaitan erat dengan penggunaan energi fosil. Dimana, energi yang digunakan dalam sistem pangan lebih besar hingga lima kali lipat dari produksi hasil pertaniannya.

Konsumsi energi fosil pada sektor ini, tentu saja, melepaskan emisi karbon ke lingkungan sebagai hasil dari pembakaran energi. Dengan demikian, sektor pertanian turut berkontribusi dalam menghasilkan gas rumah kaca yang menyebabkan peningkatan suhu permukaan bumi. Sementara itu, persoalan lain muncul manakala berkurangnya cadangan energi fosil yang ada di bumi sehingga mengakibatkan kelangkaan energi. Kelangkaan energi fosil akan berujung pada peningkatan biaya produksi pertanian yang bisa menyebabkan penurunan hasil pertanian hingga kelangkaan pangan.

Pertanian Organik

Pertanian organik adalah sistem budi daya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami dan mengedepankan prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan perlindungan. Sebenarnya, konsep pertanian organik ini bukanlah hal baru. Konsep pertanian organik telah dikenalkan dan dikembangkan oleh seorang pakar botani terkemuka, Sir Albert Howard, sekitar awal 1940-an.

Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, pertanian organik pun turut berkembang. Hal ini dikarenakan pertanian organik memiliki kapasitas besar sebagai solusi dalam mengatasi sejumlah permasalahan lingkungan, seperti pemanasan global, kerusakan lingkungan, serta menipisnya persediaan pangan dan air di seluruh dunia.

Salah satu faktor yang mendorong kapasitas pertanian organik sebagai solusi terhadap persoalan lingkungan adalah pertanian organik menggunakan bahan bakar fosil dan air yang jauh lebih sedikit dibandingkan pertanian konvensional, dengan hasil produksi pertanian yang sama. Penggunaan pupuk alamiah—seperti kompos yang menggantikan pupuk nitrogen sintetik mampu mengurangi konsumsi energi fosil untuk produksi pupuk nitrogen. Dengan demikian, pertanian organik mampu mengurangi emisi karbon yang berasal dari produksi pupuk kimia.

Tidak hanya mengurangi emisi karbon, pertanian organik bahkan mampu menyerap karbon dari udara. Institut Rodale di AS yang telah melakukan penelitian terhadap pertanian organik selama puluhan tahun, menemukan adanya peningkatan karbon tanah hingga 30% dengan praktik organik. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, manajemen tanah organik memperkecil penggunaan bahan bakar fosil sekaligus menyerap zat karbon dari udara dan menyimpannya sebagai karbon di dalam tanah.

Tanah yang kaya karbon bermanfaat untuk menjaga unsur air dalam tanah. Selain itu, karbon dalam tanah juga akan membuat tanaman lebih sehat serta tahan terhadap tekanan kekeringan, hama, dan penyakit.

Hasil penelitian Institut Rodale tersebut didukung pula oleh penelitian lain yang dilakukan oleh Soil Association. Soil Association menemukan bahwa pertanian organik mampu menyerap hingga 3,2 juta ton karbon. Jumlah tersebut setara dengan menyerap karbon hampir satu juta mobil on the road. Berdasarkan fakta-fakta tersebut, pertanian organik mampu mentransformasikan pertanian dari penyebab pemanasan global menjadi solusi utama.

Pola Makan Organik

Meningkatnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan bukan hanya diwujudkan lewat penerapan pertanian organik. Melainkan, juga banyak diwujudkan melalui kebiasaan sehari-hari dengan menerapkan pola makan organik, yaitu mengonsumsi hanya bahan pangan organik.

Dalam prinsip pangan organik, masyarakat sangat dianjurkan untuk mengonsumsi produk organik yang berasal dari daerah yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Tujuannya adalah untuk mempertahankan kualitas bahan pangan organik. Namun di balik tujuan tersebut, anjuran ini tentu akan mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari transportasi pengangkutan produk.

Disamping memberikan manfaat kepada lingkungan, konsumsi bahan pangan organik juga memberikan manfaat bagi kesehatan. Bahan pangan organik terbebas dari racun pestisida maupun pupuk-pupuk kimiawi sehingga mengurangi risiko berbagai penyakit, seperti kanker dan gangguan sistem saraf.

Selain itu, produk pangan organik memiliki kandungan gizi lebih tinggi dan memiliki rasa yang lebih lezat karena tidak melalui proses modifikasi seperti pada pangan non-organik. Dengan demikian, semakin banyak mengonsumsi bahan pangan organik akan membuat tubuh lebih sehat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati.  (Oleh: Dyota Tenerezza)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat