Ngopi, Menyeruput Kenikmatan Secangkir Kopi

Menikmati secangkir kopi di kedai kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan. Pada awalnya, ngopi dilakukan di warkop-warkop (warung kopi) sederhana dengan harga kopi yang terjangkau berbagai kalangan. Kini, warkop telah dimodifikasi menjadi kedai kopi/coffee shop yang sangat modern, nyaman, dan berkelas. Konsekuensi dari kenyamanan tersebut adalah harga secangkir kopi yang melambung tinggi.

Warkop Modern

Kini, ngopi tak lagi sekedar memberikan kenikmatan dari secangkir minuman hangat berwarna hitam. Namun, ngopi juga telah dijadikan ajang bersosialisasi. Mulai dari meeting dengan klien, kongkow bersama rekan dan sahabat, melepas penat, hingga sekedar menunggu berkurangnya kemacetan pada jam pulang kantor.

Tren ini pun disambut baik para pengusaha dan pengelola untuk menghadirkan sebuah tempat ngopi yang nyaman dan cozy. Mereka pun tidak hanya menyajikan beragam jenis minuman kopi, tetapi juga melengkapi kedainya dengan berbagai fasilitas. Salah satu fasilitas wajib sebuah kedai kopi modern adalah layanan internet nirkabel.

Tak heran, meskipun harga yang dibandrol jauh lebih tinggi dibanding warkop, kedai kopi tak pernah sepi pengunjung. Mulai dari pagi, siang, sore, hingga malam hari, tetap ramai pengunjung. Bahkan, beberapa kedai melayani pelanggan selama 24 jam nonstop.

Arabika vs Robusta

Keberadaan kopi tak terlepas dari kisah seorang penggembala domba asal Etiopia, Khalid. Konon, domba-domba ternak milik Khalid menjadi sangat aktif dan bersemangat setelah memakan buah kemerahan yang menyerupai buah ceri. Belakangan, buah tersebut dikenali sebagai kopi dan mulai dibudidayakan di Etiopia pada abad ke-12. Kemudian, menyebar hingga ke Timur Tengah dan Eropa, dan pada akhirnya dibawa bersama kapal Perancis dan Belanda pada abad ke-18 dan ke-19.

Secara umum, dikenal 4 jenis kopi, yaitu kopi arabika (Coffea arabica), kopi robusta (Coffea canephora), kopi liberika (Coffea liberica), dan kopi excelsa (Coffea dewevrei). Di antara keempatnya, kopi liberika adalah juaranya, best of the best. Pohon kopinya yang dapat mencapai ketinggian 30 m menghasilkan biji kopi terbesar di dunia. Kopi ini tumbuh di hutan pedalaman Kalimantan dan merupakan bahan minuman tradisional Suku Dayak. Meskipun biji kopi ini yang terbesar, jumlahnya sangat sedikit.

Kebanyakan kopi yang beredar di dunia adalah arabika yang menguasai 70% pasar dan robusta sebesar 30%. Kopi arabika memiliki kualitas tinggi dan beraroma harum. Sedangkan, kualitas robusta berada di bawah arabika, cenderung berasa asam dan pahit, serta kandungan kafein yang lebih tinggi (2—3 kali) dibanding arabika.

Indonesia merupakan penghasil kopi arabika terbaik di dunia, meskipun bukan penghasil terbanyak. Dari tujuh jenis kopi arabika, enam di antaranya dihasilkan di Indonesia, yaitu Gayo (Aceh), Mandheling (Sumut), Java (Jawa), Kintamani (Bali), Kalosi Toraja (Sulawesi), dan Mangkuraja (Bengkulu). Sementara, satu jenis lainnya dihasilkan di Jamaika yang dikenal sebagai Blue Mountain, kopi yang memiliki cita rasa enak, mantap, dan—tentu saja, mahal.

Jenis arabika yang termasuk langka adalah speciality arabica. Rendahnya kandungan kafein merupakan keunggulan kopi ini. Kopi ini biasa dibeli dalam bentuk biji kopi. Jenis spesial lainnya adalah kopi luwak. Kopi dengan sensasi nan eksotik, spesifik, dan sangat mahal ini hanya dihasilkan di Indonesia dan Filipina.

Biji kopinya diambil dari kotoran luwak (sejenis musang) yang memakan buah kopi yang telah matang di pohon. Biji kopi tidak tercerna dan telah mengalami proses fermentasi alami dalam pencernaan luwak, lalu dikeluarkan bersama kotoran.

Bagi mereka yang ingin mengurangi konsumsi kafein, dapat mencoba kopi decaf. Sayangnya, proses dekafeinisasi telah menurunkan kualitas baik dan cita rasa asli dari kopi tersebut. Sebagai alternatif, dapat dipilih speciality arabica.

Kualitas dan cita rasa kopi, sebenarnya, dipengaruhi lokasi penanaman serta pemanenan. Panen biji kopi yang sudah benar-benar matang akan memberikan rasa manis secara alami dan memiliki kandungan asam yang lebih rendah.

Fakta vs Mitos

Di balik kenikmatannya, kopi seringkali dikaitkan dengan mitos-mitos maupun anggapan negatif tentang kopi. Misalnya saja, kopi yang bisa menyebabkan adiksi, keropos tulang, maupun hipertensi. Semua anggapan tersebut pun seolah-olah menunjuk kafein sebagai penyebabnya. Padahal, tak selamanya kafein berefek negatif, jika dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.

Hal ini sesuai dengan hasil studi Dr. J. Murdoch Ritchie, dalam “The Pharmacological Basis of Therapeutics”, yaitu kafein dalam 1—2 cangkir kopi dapat menambah kecepatan berpikir dan inspirasi, membuat badan lebih segar, serta mengobati rasa kantuk dan lelah. Namun, dapat berefek racun jika dikonsumsi dalam jumlah besar (10 cangkir) berturut-turut yang menyebabkan kecemasan, gelisah, insomnia, dan diare. Sedangkan, konsumsi sebesar 10 g (sekitar 100 cangkir) secara berturut-turut bisa menyebabkan kematian.

Selain kafein, kopi juga mengandung beberapa zat lainnya, seperti zat besi, magnesium, fosfor, kalium, dan fluoride. Kandungan polifenolnya pun bersifat sebagai zat antioksidan.

Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa mengonsumsi 1—3 cangkir kopi dalam sehari bisa bermanfaat bagi kesehatan, yaitu mengurangi risiko kanker usus besar, batu empedu, sirosis hati, Parkinson, serta serangan asma.

(Oleh: Dyota Tenerezza)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat