Mengulas Sejarah Stasiun Tertua di Indonesia

Kereta api menjadi sarana transportasi yang dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat di Indonesia, apalagi di Pulau Jawa. Tingkat kepentingan dalam penggunaan kereta api sudah dibutuhkan sejak zaman penjajahan Belanda. Penggagasan dalam pembangunan jalur kereta api dilakukan sejak era tanam paksa.

Saat itu hasil dari pertanian di kawasan Pulau Jawa sudah tidak lagi untuk memenuhi kebutuhan wilayah sekitar saja. Namun, untuk kebutuhan pasar internasional. Dengan demikian, dibutuhkanlah sarana transportasi untuk mempermudah akomodasi dan meningkatkan volume angkut hasil panen di wilayah pedalaman.

Kemudian, dari permasalahan tersebut muncul sebuah gagasan saat kepemimpinan  Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch untuk membangun jalur kereta api. Sayangnya, ternyata ada beberapa pihak yang tidak setuju dengan gagasan yang sudah dirancang sedemikian rupa. Alasannya, volume barang hasil tani yang dibawa masih terlalu sedikit. Sehingga, tidak efisien jika diangkut dengan kereta api. Begitupun dengan jumlah penumpang yang masih sedikit, karena pada masa itu, orang Jawa cenderung tidak suka berpergian jarak jauh.  Hingga pada akhirnya, dibuatlah jalur kereta api pertama di Indonesia. Pembangunan jalur kereta dimulai di Semarang.

Memang, Semarang menjadi tonggak sejarah perkeretaapian Indonesia. Jika Anda berpikir bahwa stasiun tertua di Semarang adalah Stasiun Tawang, itu kurang tepat. Stasiun tertua di Semarang, bahkan tertua di Indonesia adalah Stasiun Semarang Nederlandsche-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) atau dikenal sebagai Stasiun  Semarang Gudang. Stasiun ini terletak di Kelurahan Kemijen, tepat di ujung jalan Ronggowarsito.

Jalur kereta api itu mulai dibangun pada 16 Juni 1864 oleh Nederlandsche-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) atau disebut sebagai Maskapai Kereta Api Hindia-Belanda. Dengan adanya jalur kereta api tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara tertua kedua di Asia yang memiliki transportasi kereta api. Jalur kereta api itu digunakan sebagai sarana transportasi yang bersifat massal dan efisien dari sisi waktu. Terlebih juga digunakan sebagai alat angkut hasil perkebunan tebu dan kopi pada saat itu.

Kereta mulai beroperasi dari Stasiun Tambaksari pada 10 Agustus 1867. Mengarungi perjalanan sekitar 25 kilometer dari Semarang menuju Tanggung. Lima tahun kemudian, dibuatlah jalur lintasan Semarang – Surakarta – Yogyakarta, termasuk lintasan Kedung Jati – Ambarawa yang dikerjakan dengan jerih payah.

Meskipun Semarang tidak dilayani oleh Staatsspoorwegen atau dikenal sebagai perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu, namun kota yang terkenal dengan makanan khas lumpia tersebut dilayani oleh tiga perusahaan kereta api swasta yang cukup terkenal.

Namun, keadaan Stasiun Semarang Gudang saat itu ternyata serupa dengan situasi perkeretaapian di Paris yang memunculkan persoalan tersendiri. Tiga perusahaan swasta yang melayani Stasiun Semarang Gudang memiliki jaringan terpisah yang tidak saling berhubungan.

Lebar kereta pun juga berbeda. Untuk jurusan Solo dan Yogya sebesar 1435 mm. Sedangkan, kereta jurusan Surabaya, Semarang-Joana Stoomstram (SJS) Maatschappij dan Semarang-Cirebon Stoomtram (SCS) Maatschappij sebesar 1067 mm. Terpisahnya jaringan memiliki dampak yang kurang baik bagi para penumpang dan angkutan barang. Tidak hanya itu, bahkan ketiga perusahaan swasta itu juga memiliki stasiun yang terpisah pula.

Tahun 1914, Stasiun Semarang Gudang dibongkar. Yang masih tersisa hanyalah bangunan gudang dan stasiun saja. Semua aktivitas ekspor dan pengiriman barang dialihkan ke Stasiun Tawang. Ketika Indonesia merdeka, stasiun tersebut diambil alih oleh perusahaan yang dibentuk oleh pemerintahan Indonesia, yaitu Djawatan Kereta Api (DKA) atau kini dikenal sebagai PT. Kereta Api Indonesia. Stasiun Semarang Gudang dijadikan sebagai stasiun barang hingga sekitar tahun 2000-an dan ditutup pada tahun 2008 dengan alasan kawasan stasiun sering terjadi banjir. Sehingga, kini stasiun tersebut berubah menjadi sebuah tambak.

(Oleh: Anita Nur Fitriany)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat