Memahami Perbedaan Advertorial, Editorial, dan Content Marketing

Untuk memahami apa itu content marketing khususnya dalam bentuk artikel (karya tulisan), maka anda harus memahami terlebih dulu apa itu advertorial dan editorial. Meski ketiganya menggunakan Bahasa sebagai sarana penyampai pesan, namun ketiganya berbeda satu sama lain. Editorial merupakan bagian dari karya jurnalistik meski isi dari artikel lebih terbebani oleh opini penulis. Sebagai karya jurnalistik, pandangan penulis terhadap dunia di sekitarnya, relatif lebih bersifat subyektif yang menggunakan idiom-idiom obyektivitas realitas. Ini berbeda dengan advertorial yang memang secara terang-terangan subyektif mengajak pembaca pada kepentingan tertentu. Jika produk, maka penulisan advertorial diarahkan pada pesan untuk tertarik pada produk bersangkutan.

Berbeda pula dengan content marketing yang sebenarnya tetap mengedepankan aspek subyektivitas penulis, dengan tidak mengabaikan realitas obyektif yang berkembang di masyarakat. Contohnya, pembuatan content marketing melalui cerita atau kisah seseorang tanpa mengurangi sedikitpun kondisi yang terjadi di kenyataan. Namun, kisah itu dikemas sedemikian rupa sehingga pembaca mampu menangkap kesan yang ingin disampaikan oleh sang produsen content atau content marketeers (penulis). Dengan kesan itu, produk apapun yang akan dipromosikan begitu halus mendiami lubuh hati terdalam pembaca. Di sinilah tujuan dari pembuatan content marketing yang ideal. Pembaca tidak merasa adanya provokasi atau pengaruh dari penulis secara langsung. Mereka pada ujungnya, akan mengakui bahwa kesan yang mereka tangkap melalui kisah atau cerita itu logis apa adanya, dan tidak dibuat-buat.

Contoh kongkrit dari uraian diatas, adalah kisah-kisang percintaan yang diproduksi oleh brand jam tangan terkenal Rolex. Dengan menampilkan ide klasik baik melalui foto-foto, maupun artikel, serta video, content marketeers menyuguhkan realitas sederhana tanpa memasukkan unsur digital sama sekali. Kualitas foto dan ulasan atas produk itu pun menyuguhkan kualitas terbaik mereka, sehingga pembaca atau audience merasa dengan konten seperti itu, maka produk jam yang diselipkannya pun memiliki kualitas serupa. Hal serupa dengan brand tas Hermes. (*)

 

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat