Matic vs Manual: Nyaman, Mudah, atau Hemat?

Kemacetan Ibukota Jakarta menjadi salah satu alasan para pengendara untuk beralih ke kendaraan bertransmisi otomatis atau yang lebih populer dengan sebutan matic. Memang, kendaraan jenis ini—sebut saja mobil—menawarkan kemudahan dan kenyamanan saat berkendara. Namun, berbagai anggapan ‘miring’ tentang mobil matic sering membuat orang ragu untuk memilihnya.

 

Matic vs Manual

Belakangan, kendaraan matic mulai dilirik konsumen pasar otomotif. Mobil matic dipilih karena nyaman dan mudah untuk dikendarai, terutama saat macet. Pengendara tak perlu berulang kali menginjak kopling untuk pindah gigi karena dari seluruh sistem operasi mobil, kopling lah yang paling banyak menguras tenaga, terlebih lagi saat macet.

Kendati demikian, masih banyak orang yang enggan untuk meninggalkan mobil manualnya. Hal ini disebabkan asumsi-asumsi negatif terhadap mobil matic. Seperti, mobil yang tidak bisa didorong jika mogok, tidak se-responsif mobil manual saat berakselerasi, perawatan yang sulit dan mahal, lebih boros BBM, serta harga jual yang jatuh.

Memang, terdapat perbedaan mendasar antara mobil matic dan manual, mulai dari bentuk fisik persneling, sistem pengoperasian, sampai karakter laju kendaraan. Secara fisik, mobil manual memiliki tiga pedal (gas, rem, dan kopling), sedangkan mobil matic hanya memiliki dua pedal (gas dan rem). Bahkan, adapula rem tangan yang telah menyatu dengan pedal rem kaki.

Meskipun hanya terdapat dua pedal, kaki kiri tidak diperkenankan untuk bekerja. Seperti pada mobil manual, kaki kanan tetap bertugas untuk menginjak pedal rem dan gas. Menginjak pedal rem dan gas secara bersamaan dapat merusak transmisi matic karena daya gerak kopling tertahan saat masih berputar.

 

Akselerasi

Perbedaan mendasar lainnya adalah pada transmisi otomatis, perpindahan gigi terjadi secara otomatis sesuai dengan putaran mesin yang sedang berjalan yang menggunakan mekanisme gesekan dan tekanan minyak pelumas. Sementara, transmisi manual masih memerlukan tenaga pengemudi untuk menginjak kopling saat mengubah gigi.

Gigi pada manual (1,2,3,4,5, dan R) digunakan tergantung pada kecepatan kendaraan. Seperti gigi 1 yang digunakan pada kecepatan rendah atau jalan menanjak dan gigi selanjutnya digunakan seiring bertambahnya laju kendaraan. Berbeda dengan mobil matic yang memiliki tuas persneling dengan format P (Park), R (Reverse), N (Neutral), D (Drive), 3, 2, dan L.

Saat menghidupkan mesin mobil, tuas pada posisi P sambil menginjak rem. Rem harus selalu diinjak saat memindahkan persneling dari posisi P atau N ke posisi R atau D. Fungsi P baru dapat digunakan jika mobil sudah benar-benar berhenti. Jika dipaksakan saat mobil masih jalan, transmisi bisa mengalami kerusakan. Untuk menjalankan kendaraan, tuas berada pada posisi D. Selanjutnya, persneling akan berpindah secara otomatis hingga posisi tertinggi sesuai dengan kecepatan putaran mesin.

Yang sering menjadi masalah adalah saat mobil matic melalui jalan menanjak. Seringkali tenaga mesinnya melemah dan sulit berakselerasi. Kesulitan tersebut dapat diatasi dengan memosisikan tuas pada “2” atau “L”. Tuas ini juga berguna saat jalan menurun sehingga pengemudi tak perlu terlalu sering menginjak rem karena laju kendaraan tertahan oleh engine break. Kontrol elektronik pada transmisi matic memungkinkan perpindahan gigi yang lebih halus.

Masalah lain timbul saat mobil matic mogok. Dalam kondisi mogok, mobil matic masih bisa didorong dengan tuas pada posisi N untuk dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Namun, mendorong tidak untuk menghidupkan mesin mobil seperti yang dilakukan pada mobil manual yang mogok. Hidup atau tidak mesin mobil matic sepenuhnya tergantung pada dinamo starter dan aki.

 

Perawatan

Perawatan terpenting untuk mobil matic adalah mengganti oli setiap 10 ribu km dan mengurasnya setiap 20 ribu km. Mengganti berarti hanya membuka baut karter (oilpan) gearbox dan membuang oli yang berada di penampungan bawah gearbox (sekitar 2—3 liter). Sedangkan menguras berarti mengganti semua oli di dalam converter dan saluran dengan menggunakan alat khusus (ATF Changer). Pada proses ini oli yang terbuang sekitar 6—8 liter.

Oli yang digunakan berbeda dengan oli mobil manual. Mobil matic menggunakan oli grade ATF (Automatic Transmision Fluid). Oli ini lebih encer dibandingkan oli kebanyakan sehingga bekerja lebih maksimal pada suhu tinggi. Selain itu, oli ATF tidak hanya berfungsi sebagai pelumas seperti halnya pada transmisi manual. Melainkan, juga sebagai penghantar dalam mekanisme perpindahan gigi.

Untuk perawatan oli, memang mobil matic memerlukan ekstra perhatian sekaligus ekstra dana. Dilihat dari harga, oli ATF dua kali lipat harga oli manual per liternya. Sementara, pada pengurasan, oli matic yang dibutuhkan sekitar 9—10 liter, jauh lebih banyak dibanding volume oli pada manual. Belum lagi, ongkos jasa penggantian oli sekitar Rp 150.000—Rp175.000.

Memang, perawatan mobil matic lebih rumit dan kompleks ketimbang mobil manual. Namun, dengan perawatan rutin dan sesuai dengan spesifikasinya, mobil matic bisa berumur panjang dan memiliki harga jual lebih tinggi ketimbang mobil manual.

(Oleh: Dyota Tenerezza)

 

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat