Knalpot ‘Hijau’ Karya Anak Bangsa

Terhitung sejak Agustus 2013, pemerintah telah menetapkan peraturan melarang produksi motor dua tak. Hal tersebut dilakukan karena pada kendaraan bermotor tersebut tidak memenuhi standar emisi gas buang Euro 3 yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan hidup hingga pemanasan global. Adanya peraturan tersebut membuat sejumlah produsen motor di Indonesia untuk membuat kendaraan empat tak.

Beragam upaya untuk menyeimbangkan antara kebutuhan sarana transportasi dan menjaga lingkungan hidup sehat pun dilakukan. Salah satunya adalah membuat sebuah karya atau inovasi dalam bentuk peduli lingkungan. Selain pemerintah, hal ini juga dilakukan oleh anak bangsa dengan membuat inovasi berupa knalpot buatan lokal dan ramah lingkungan.

Seorang pelajar asal Bandar Lampung menjadi salah satu inovator dalam pembuatan knalpot ramah lingkungan. Hal tersebut dibuktikan dalam ajang pameran yang diselenggarakan oleh Univesitas Indonesia (UI) Indonesian Science Project Olympiade (ISPO) 2011 yang diadakan di Balairung UI. Ratna dan Niken, siswi asal SMAN 2 Bandar Lampung ini memamerkan hasil temuannya, yaitu knalpot ramah lingkungan dengan teknologi katalistik sebagai konverter sederhananya. Tidak jauh berbeda dengan knalpot ada umumnya, hanya saja knalpot ‘hijau’ ini ditambahkan batu-batu zeolit sebagai filterisasi asap dan gas karbon. Batu zeolit merupakan batu asam yang berbutir halus, berpori, serta memiliki struktur tiga dimensi. Maka, tak heran jika zeolit dapat menyaring zat kotor dan beracun hingga 50 persen lebih.

Material yang digunakan dalam membuat prototype knalpot ramah lingkungan pun mudah didapatkan. Ratna dan Niken mengaku bahwa mereka mendapatkan bebatuan zeolit tersebut di toko akuarium. Batu-batu tersebut dipasang di dalam kipas pada knalpot melalui proses las. Jika pemanfaatan batu zeolit mampu untuk menyaring zat beracun dan kotor pada knalpot, maka mekanisme pembuatan knalpot ‘hijau’ yang lain pun dapat dibuat dengan penambahan serat berbahan tembaga, kuningan yang dilapisi chrome, tembaga yang dilapisi chrome, atau tembaga yang dilapisi dengan mangan. Logam tersebut menjadi alternatif lain untuk menurunkan kadar emisi zat Karbondioksida (CO2) hingga 96 persen dan Hidrokarbon (CH) 94 persen. Penggunaan catalytic converter yang satu ini jauh lebih murah dan masih mudah didapatkan di toko peraatan motor terdekat.

Sebelum memasang catalytic converter tersebut, terlebih dahulu harus membongkar knalpot standar untuk mengetahui komponen yang terdapat dalam knalpot. Lalu, knalpot yang masih ‘perawan’ itu dibagi menjadi beberapa bagian agar tidak terlalu rumit saat bongkar pasang, serta menghindari kerusakan terhadap beberapa komponen knalpot. Kemudian, pada bagian yang telah dibongkar dapat dipasangkan catalytic converter berupa logam yang dipilih. Tentu saja pada penggunaan knalpot ini dianjurkan untuk menggunakan bahan bakar minyak yang non subsidi atau memiliki kualitas yang lebih bagus agar mendukung mekanisme kerja knalpot.

Inovasi yang telah dibuat oleh anak bangsa ternyata tidak sampai pada titik Ratna dan Niken saja. Pada ajang pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) yang di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta memberikan kesempatan bagi para pengusaha aksesori motor dalam untuk memamerkan produk-produknya, tak terkecuali knalpot karya anak bangsa R9. Knalpot yang satu ini dibuat menggunakan material titanium dan stainless steel. Keduanya dibanderol dengan harga sekitar Rp850 ribu hingga Rp6,05 juta untuk bahan stainless steel. Sedangkan, untuk bahan titanium dibanderol dengan harga Rp6,05 juta hingga Rp35 jutaan.

(Oleh: Anita Nur Fitriany)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat