Keselamatan Kerja di Laboratorium

Laboratorium merupakan sarana untuk melaksanakan kegiatan penelitian ilmiah. Namun sebagai tempat dengan segala kelengkapan peralatannya, laboratorium dapat berpotensi menimbulkan bahaya pada penggunanya.  Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan perlindungan tenaga kerja dari segala aspek yang berpotensi membahayakan dan sumber yang berpotensi menimbulkan penyakit akibat dari jenis pekerjaan tersebut, pencegahan kecelakaan dan penserasian peralatan kerja, dan karakteristik pekerja serta orang yang berada di sekelilingnya.

Keselamatan bekerja didalam sebuah laboratorium meupakan salah satu aspek yang patut untuk diperhatikan. Contohnya seperti seseorang yang tengah berkendara di jalan raya. Begitu pula dengan bekerja  di laboratorium juga memerlukan rambu-rambu sehingga selama dalam perjalanan dapat sampai tujuan dengan selamat. Meski begitu kecelakaan dapat terjadi bukan hanya karena tidak memperhatikan etika berkendara dan rambu-rambu lalu lintas, tetapi juga dapat terjadi ketika ada orang lain yang lalai. Begitu juga halnya dengan kecelakaan kerja yang terjadi di laboratorium. Hal ini tentu bukanlah kejadian yang disengaja tetapi bisa terjadi apabila ada kelalaian dari diri sendiri dan orang lain. Oleh karenanya  semua pihak sangat berperan dalam menerapkan budaya keselamatan kerja.

Bekerja di laboratorium dengan nyaman tentunya akan mempengaruhi kelancaran pada aktivitas kerja. Dengan begitu kecelakaan kerja dapat dihindari. Karena kecelakaan kerja yang terjadi di laboratorium selain dapat menimbulkan kerugian materi namiun juga korban jiwa. Meski begitu semua kemungkinan  tersebut  dapat dieliminir dengan memperhatikan pedoman kesehatan kerja.

Kecelakaan kerja bisa saja terjadi setiap saat di laboratorium. Berikut ada beberapa penyebab terjadinya kecelakaan tersebut, diantaranya :

  1. Faktor manusia

Faktor kelalaian manusia yang kurang memperhatikan aspek keselamatan kerja dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Kelalaian manusia juga dapat terjadi karena belum memahami panduan keselamatan kerja dengan benar. Perilaku baik akan terbawa setiap saat jika telah menjadi kebiasaan dalam kehidupan seseorang. Begitu pula budaya keselamatan kerja akan terbangun apabila selalu ada pembiasaan dalam setiap aktivitas di laboratorium. Kebiasaan bekerja sesuai dengan prosedur yang benar akan terbawa jika kebiasaan kecil dalam memperhatikan aspek keselamatan kerja selalu dibiasakan dari hal-hal yang paling sederhana. Contohnya mengenakan sepatu tertutup saat bekerja di laboratorium. Jika sekali dua kali bekerja dengan sepatu terbuka tetap aman, biasanya akan merasa sama saja mengenakan sepatu terbuka atau tertutup sehingga tidak ada kekhawatiran lagi jika tumpahan atau percikan bahan kimia setiap saat bisa terjadi.

  1. Bahan kimia

Faktor lain terjadinya kecelakaan kerja yaitu penanganan bahan kimia yang tidak sesuai. Penyimpanan bahan kimia yang baik harus mempertimbangkan kualifikasi dan sifat bahan. Bahan kimia tidak harus disimpan sesuai dengan urutan abjad. Penyimpanan bahan cair dan padat harus terpisah dan harus disesuaikan dengan sifatnya. Bahan cair yang telah diencerkan dan bahan padat yang telah dibuat dalam larutan harus disimpan dalam wadah yang sesuai dan diberi label. Label bahan kimia minimal menyertakan nama, konsentrasi, dan tanggal pembuatan. Bahan kimia yang tidak mempunyai label harus disingkirkan dan tidak diperbolehkan untuk digunakan, jika perlu ditelusur identitasnya.

Sementara itu mereaksikan bahan kimia harus sesuai dengan prosedur kerja dengan memperhatikan sifat bahan kimia yang digunakan.  Mengenal sifat bahan kimia menjadi suatu keharusan sebelum berinteraksi dengan bahan kimia.

Begitu pula dengan pemindahan atau pengambilan bahan kimia dilakukan sesuai dengan prosedur yang benar. Penanganan tumpahan atau percikan bahan kimia perlu diketahui sebelum bekerja di laboratorium. Tumpahan atau percikan bahan yang mengenai meja atau lantai perlu ditangani secara tepat. Apabila mengenai kulit atau mata harus mengetahui tindakan atau pertolongan pertama yang dapat dilakukan.

  1. Alat dan instrumentasi

Menggunakan alat-alat gelas laboratorium yang sesuai dengan fungsi dan cara pemakaian yang benar dapat menghindarkan dari resiko kecelakaan kerja. Alat gelas yang telah berkurang fungsi dan kegunaannya, seperti ada bagian yang telah hilang, retak atau pecah sebaiknya tidak lagi digunakan. Instrumentasi yang tidak layak pakai juga tidak digunakan, seperti necara yang telah rusak sehingga menimbulkan kesalahan penimbangan, dapat berakibat kesalahan dalam pembuatan bahan atau campuran reaksi. Sentrifuge yang rusak sebaiknya tidak digunakan.

  1. Sarana dan prasarana penunjang

Saluran air bersih di laboratorium harus tersedia dengan baik, Hal ini diperlukan untuk keperluan kebersihan, penanganan kecelakaan, sebagai pendingin proses distilasi, ekstraksi, atau refluks serta berbagai keperluan lainnya. Saluran listrik yang digunakan selalu diperiksa secara rutin dan harus dilengkapi pengontrol otomatis apabila terjadi hubungan arus pendek.  Idealnya setiap laboratorium mempunyai program pelatihan teknik laboratorium atau kesehatan dan keselamatan kerja kimia.

Selain itu seiring dengan kemajuan teknologi maka peralatan kerja di laboratorium sebagai sarana research and development-pun juga semakin berkembang. Itu artinya kita harus semakin hati-hati bekerja di laboratorium, termasuk selalu memperhatikan keselamatan bagi diri kita dan orang lain yang bekerja di laboratorium. Dengan keselamatan dan kesehatan kerja maka diharapkan dapat melakukan pekerjaan dengan aman dan nyaman. Laboratorium yang baik harus dilengkapi dengan peralatan keselamatan kerja yang memadai untuk dapat melindungi dan menjamin keselamatan pekerja.

Fasilitas alat untuk melengkapi ruang kerja di laboratorium diantaranya :

  • Fire extinguisher 
  • Hidrant
  • Eye washer 
  • Water shower 

Sedang peralatan darurat dan pendukung yang harus tersedia di laboratorium antara lain:

  1. Kotak P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan)
  2. Tandu
  3. Spill Kits 
  4. Pakaian pelindung and Respirators
  5. Peralatan dekontaminasi
  6. Disinfektan dan peralatan pembersih
  7. Peralatan lain (palu, obeng, tali, dll)
  8. Pita demarkasi, tanda peringatan

(Oleh: Chairudi Barata)

(dimuat di majalah ESDM Mag (Kementerian ESDM) – Edisi 9 2012)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat