John Baker “Menembus Batas Kenyataan Demi Sebuah Kontribusi Masa Depan”

John Baker adalah seorang pelari fenomenal yang lahir pada tahun 1945 dan berasal dari Albuquerque sebuah wilayah di Amerika Serikat. Di usia 24 tahun, masa depannya tampak cerah, dimana ini merupakan puncak karier atletiknya yang mengagumkan sebagai salah seorang pelari tercepat di dunia. Dan, pada saat itu pula Baker telah mematok impiannya untuk mewakili Amerika Serikat pada perhelatan Olimpiade tahun 1972. Namun, semua itu berakhir sangat cepat setelah ia menderita sebuah penyakit kanker yang menjadi pemupus impian dan sekaligus penutup hidupnya.

Semasa kecilnya, tidak ada satu pun hal yang mengisyaratkan keistimewaan pada diri John Baker. Dengan perawakan kecil dan lebih pendek dari sebagian besar teman-teman remajanya di Albuquerque, Baker pernah dianggap “sama sekali tidak mempunyai koordinasi”, sehingga tidak masuk hitungan sebagai atlet lari di sekolah menengahnya. Akan tetapi, sesuatu terjadi pada tahun keduanya di SMA, dan yang menjadi awal perubahan pada jalan hidupnya. Yakni, sebuah kesempatan pertama di tahun itu, Baker ikut dalam lomba lari lintas alam 2,5 km dengan rute melalui kaki bukit di bagian timur Albuquerque. Sungguh suatu keajaiban, pada perlombaan tersebut tanpa disangka oleh seluruh pihak, justru Baker-lah yang keluar sebagai pemenang sekaligus juga mencatatkan rekor baru.

Apakah hasil lomba tersebut hanyalah sebuah kebetulan belaka? Nyatanya, menjelang berakhirnya tahun pelajaran di kelas 2 SMA, di usianya yang belum genap 18 tahun, Baker telah berhasil memecahkan 6 rekor lari. Dan, sungguh luar biasa selama tahun pelajaran di kelas 3 SMA, Baker dianggap sebagai pelari terandal yang pernah ada di negara bagiannya tersebut.

Kehebatannya tersebut berlanjut saat Baker duduk dibangku kuliah di New Mexico University di Albuquerque tahun 1962. Baker semakin mempergiat latihan dengan menempuh empat puluh kilometer setiap pagi. Ternyata, latihan itu terbukti bermanfaat, dimana pun New Mexico Lobos (tim New Mexico University) bertanding, maka John Baker membuat para peramal tercengang dengan mengalahkan para pelari unggulan. Tak hanya itu saja, di tahun 1965 ketika Baker masih di tingkat dua, tim lari paling ditakuti di seluruh negeri, yaitu tim Trojans dari Southern California University juga dipaksa menelan kekalahan terburuk ketiga dalam kurun waktu enam puluh lima tahun oleh tim Lobos.

Setelah lulus kuliah, Baker justru menjadi pelatih anak-anak di SD Aspen, Albuquerque, pekerjaan yang sudah lama direncanakannya, dan sekaligus ia bisa memperbarui latihan kerasnya dengan sasaran bisa mengikuti Olimpiade 1972. Dalam menerapkan pelatihannya, Baker tidak menginginkan ada anak yang menonjol sendirian serta tidak adanya kecaman jika ada anak yang kurang kemampuannya. Tuntutannya hanya satu, yakni setiap anak harus melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Baker benar-benar memberikan kesempatan dan hak yang sama kepada semua anak, sehingga tidak ada satu anak pun yang merasa terkucilkan. Sikapnya yang adil, ditambah dengan kepedulian yang tulus bagi kemajuan murid-muridnya itulah yang kemudian mampu memicu reaksi positif, sehingga ia mendapat julukan sebagai “Pelatih Peduli”. Dan, menjelang Hari Bersyukur, lebih dari 500 surat yang berisi tentang pujian dan ungkapan terima kasih kepada Baker dari para orang tua murid berdatangan, baik di Aspen maupun di kediamannya.

Di awal Mei 1969, tidak lama sebelum ulang tahunnya yang ke-25, Baker dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit, yaitu mengidap penyakit kanker dan harus segera menjalani operasi. Ternyata, Baker tidak cukup menjalani sekali operasi, ia harus menjalani operasi keduanya secara menyeluruh, dan ironisnya setelah operasi keduanya pun kesempatan hidupnya diperkirakan hanya sekitar 6 bulan lagi. Sejak saat itu, Baker menghadapi kenyataan hidup yang sangat memilukan, tidak akan ada lagi kegiatan lari, tidak ada Olimpiade, dan hampir dipastikan karirnya sebagai pelatih sudah berakhir.

Merasa hidupnya sudah tidak lama lagi, semangatnya untuk hidup mulai meredup dan ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri terjun bebas bersama mobilnya dari puncak gunung Sandia Crest, Albuquerque. Akan tetapi, sewaktu hendak terjun tiba-tiba saja bayangan wajah anak-anak SD Aspen yang selama ini dilatih dan diajarkannya untuk senantiasa melakukan yang terbaik meskipun sulit, muncul dihadapannya. Sontak, Baker mulai berpikir bahwa warisan atau kontribusi apakah yang akan ditinggalkan bagi mereka jika ia bunuh diri? Akhirnya, Baker mengurungkan niatnya untuk bunuh diri dan bertekad kuat dalam hatinya “berapa pun waktu yang masih kumiliki, akan kubaktikan untuk anak-anak,” janjinya.

Baker tidak ingin menjadi lemah dengan kenyataan yang dideritanya, dengan menggunakan kekuatan yang menakjubkan, Baker berkonsentrasi penuh mengabaikan rasa sakitnya sama seperti yang digunakannya untuk mengabaikan rasa lelah ketika dia lari. “Aku ingin melatih anak-anak selama aku mampu,” tegasnya dengan penuh semangat.

Di awal tahun 1970, Baker diminta untuk membantu melatih klub atletik kecil khusus bernama Duke City Dashers, untuk murid perempuan dari tingkat SD sampai SMA di Albuquerque. Baker pun langsung setuju, dan seperti para murid di SD Aspen, murid-murid perempuan di Dashers pun juga menanggapi pelatih baru mereka dengan penuh semangat.

Suatu hari Baker datang ke sesi latihan sambil membawa dua piala emas miliknya hasil dari berbagai lomba yang pernah diikutinya yang namanya telah dihapus olehnya. Piala tersebut masing-masing akan diberikan sebagai penghargaan kepada anak yang walaupun tidak pernah menang tetapi pantang menyerah, dan satu lagi untuk anggota klub Dasher.

Berkat sentuhan luar biasa dari seorang Baker, Duke City Dashers menjelma menjadi klub yang sulit dikalahkan sekaligus mampu memecahkan rekor demi rekor dalam berbagai pertandingan di seluruh penjuru New Mexico dan negara-negara bagian lainnya. Di sebuah kesempatan, The Dasher –sebutan klub tersebut– berhasil maju ke final AAU di tingkat nasional. Dalam kondisi yang semakin melemah dan kritis, Baker sadar bahwa dirinya tidak mungkin dapat ikut pada pertandingan final tersebut. Usaha yang sangat luar biasa dan dapat dikatakan sebagai yang terakhir kalinya dilakukan oleh Baker adalah menelepon satu per satu anggota klub Dashers setiap malam, dan ia baru berhenti setelah berhasil membesarkan hati setiap anak untuk melakukan yang terbaik di final.

Dua hari menjelang pertandingan final tersebut, tepat di Hari Bersyukur pada tanggal 26 November 1970, John Baker menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit dalam genggaman tangan ibunya. Ajaibnya, delapan belas bulan sejak pemeriksaan pertamanya ke dokter, Baker mampu dan berhasil bertahan hidup dua belas bulan lebih lama dari waktu yang diramalkan oleh dokter.

Kemudian, dengan penuh rasa haru, akhirnya The Dashers berhasil menang pada pertandingan final AAU, dan kemudian kemenangan tersebut didedikasikan oleh mereka untuk pelatih kesayangannya, yaitu Pak Pelatih Baker.

Berkat kontribusi besarnya itu, sehingga membuat seluruh keluarga di wilayah Aspen, Albuquerque sepakat untuk merubah nama sekolah anak mereka dengan nama “Sekolah John Baker”. Dan, sampai sekarang, sekolah itu berdiri sebagai sebuah monumen nyata bagi seorang pemuda berani yang dalam masa-masa hidupnya yang paling sulit, mampu mengubah tragedi pahit menjadi sebuah warisan abadi.

John Baker tidak memilih untuk mengidap penyakit kanker, namun dia memilih cara untuk menyikapinya melalui kontribusi. Dengan memusatkan energi terakhirnya pada hati dan semangat anak-anak, dia pergi meninggalkan warisan terakhirnya dalam kehidupan orang-orang yang pernah disentuhnya. Oleh karenanya, dapat dipastikan dia mendapatkan imbalan dalam dirinya yang menyertai kehidupan penuh makna.

Kendati setiap titik pilihan yang sangat penting itu benar-benar bermakna, namun keputusan sesungguhnya yang mengubah hidup yang dihadapi itu terjadi setiap hari di saat memilih jalan untuk tidak berpangku tangan dan justru berkontribusi. Jadi, bagaimana Anda sekarang akan menghabiskan waktu Anda tahun depan, bulan depan atau besok? Keputusan ada di tangan Anda sendiri.

(Oleh:Abdullah Baradja)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat