Hari Polisi Wanita (Polwan)

Polisi wanita yang akrab disebut Polwan di Indonesia lahir pada 1 September 1948, yang berawal dari kota Bukit Tinggi Sumatera Barat. Pada saat itu, pemerintah Indonesia sedang menghadapi Agresi II pengungsian besar-besaran, antara lain dari semenanjung Malaya yang sebagian besar kaum wanita. Alasannnya adalah mereka (kaum wanita) tidak mau diperiksa, apalagi digeledah secara fisik oleh polisi pria.

Tugas Polwan di Indonesia terus berkembang, tidak hanya menyangkut masalah kejahatan wanita, anak-anak dan remaja, narkotika dan masalah administrasi saja, bahkan semakin berkembang hampir menyamai berbagai tugas Polisi pria. Di tahun 1998, ada lima orang Polwan yang dipromosikan menduduki jabatan komando (sebagai Kapolsek). Selain itu, juga terdapat empat orang Polwan yang dinaikkan pangkatnya menjadi Perwira Tinggi berbintang satu.

Begitu pula dalam dunia bisnis, tentunya perlu adanya pengelolaan hubungan yang baik dengan pelanggan, salah satunya adalah konsumen dari kalangan wanita. Konsumen wanita selalu memiliki keinginan dan kebutuhan yang selalu berkembang dan berubah seiring berjalannya waktu. Dalam berbagai artikel banyak disebutkan sekitar 46 persen pengguna internet di dunia adalah wanita, yang justru mendominasi banyak aspek di ranah digital.

Secara sosial, wanita lebih aktif dibandingkan pria. Wanita, rata-rata menghabiskan lebih dari 24 jam per bulan untuk online, lebih lama dari pria yang menghabiskan rata-rata tidak mencapai 24 jam per bulan. Mereka menghabiskan rata-rata lebih dari 16 persen waktu online-nya di media sosial, sedangkan pria hanya sekitar 12 persen. Jadi, berbicara pasar bisnis, maka pasar wanita cukup besar. Namun, pertanyaannya bagaimana sebuah brand atau perusahaan dapat menjangkau mereka?

Untuk dapat menjangkau konsumen potensial ini, para pebisnis dapat membentuk relasi dengan para pelanggannya yang biasa disebut Customer Relationship Management (CRM). Menurut Kotler & Keller (2009:189), “CRM merupakan proses mengelola informasi rinci tentang masing-masing pelanggan, dan secara cermat mengelola semua titik sentuhan pelanggan demi memaksimalkan kesetiaan pelanggan”. Intinya adalah bagaimana kita dapat membangun kesetiaan pelanggan terhadap produk yang kita buat. Selain itu, terus berupaya untuk memotivasi pelanggan, dan meminimalisir anggapan bahwa perusahaaan bukan lagi berorientasi pada produk (product-oriented), tetapi berorientasi pada pelanggan (customer-oriented).

Mempertahankan pelanggan wanita memang lebih sulit daripada mendapatkannya. Oleh karena itu, kita harus bisa memikirkan cara untuk mempertahankannya. Cara yang bisa kita lakukan untuk membina hubungan baik dengan mereka, yakni dengan menyediakan produk yang memiliki kualitas lebih baik, harga lebih murah dibandingkan produk lain yang sejenis, waktu penyerahan yang lebih cepat, dan pelayanan yang lebih baik pula. Pastinya, kita harus mampu menjadi pihak deliver values kepada mereka dengan lebih baik jika dibandingkan dengan para pesaingnya. Jika kita bisa menghargai dan menjaga hubungan dengan pelanggan wanita, maka mereka pun juga akan loyal terhadap kita.

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat