Hari Masyarakat Adat (Internasional)

Ada pepatah populer yang berbunyi “Lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya”. Artinya,  aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lain. Setiap negeri atau bangsa berlainan adat kebiasaannya. Memperingati keberagaman adat istiadat yang dianut oleh masyarakat dipelbagai belahan dunia, maka ditentukanlah Hari Masyarakat Adat (Internasional) setiap 9 Agustus.

Lalu, apa sebenarnya hidden treasure dari peringatan Hari Masyarakat Adat ini dalam dunia pemasaran/marketing? Ada sebuah analogi (ataupun contoh) menarik yang dipaparkan Hermawan Kartajaya (HK) dalam buku Entrepreneural Marketing – Compass & Canvas. Pada chapter 3 bertajuk Uncertainty in Competitor’s Move, khususnya pada sub chapter Sense#6 Local Wisdom vs Global Intervention, HK secara tegas menyebutkan bahwa pelaku bisnis sudah semestinya berupaya untuk memprioritaskan target pasar domestik, meskipun pengembangan pada pasar internasional tetap disarankan.

Mengapa demikian? HK mengambil contoh GO-JEK. Perusahaan besutan anak bangsa ini memiliki peluang besar untuk mengembangkan pasarnya di kancah internasional. Hal ini sudah dibuktikan dengan pengembangan sayap GO-JEK ke negara sahabat, seperti Vietnam. Meskipun demikian, secara prinsip GO-JEK masih meyakini bahwa pengembangan pasar domestik masih sangat menjanjikan, baik dalam kurun waktu dekat maupun di masa mendatang?

Nadiem Makariem, sang bidan GO-JEK, meyakini karakteristik bangsa Indonesia yang unik masih sangat perlu diperhatikan oleh setiap pelaku bisnis yang bergerak di Indonesia. Perilaku khas masyarakat Indonesia yang sangat beragam ini, tentunya menjadi sasaran “empuk” untuk dipenuhi secara optimal. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu basis perkembangan fitur-fitur pada aplikasi GO-JEK itu sendiri. Kemampuan putra-putri bangsa untuk memahami karakteristik dirinya sendiri tentu akan sulit dipatahkan oleh para kompetitor dari belahan dunia lain, yang tentunya memiliki karakteristik budaya/adat yang berbeda.

Contoh lain adalah adaptasi yang dilakukan sejumlah franchise dari berbagai negara yang masuk ke Indonesia. Sebut saja Burger King. Sang raja burger asal Paman Sam yang terkenal dengan produk-produk burgernya, mesti “mengalah” pada karakteristik masyarakat Indonesia mengutamakan nasi sebagai makanan pokoknya. Adaptasi yang dilakukan Burger King adalah dengan memperkaya menunya dengan sajian nasi (yang umumnya dilengkapi dengan ayang goreng). Fakta di atas menunjukkan dengan jelas bahwa masyarakat adat memiliki peran dan kontribusi yang penting untuk disertakan dalam penetapan strategi pemasaran produk dan layanan sebuah merek/brand. Apakah warganet sependapat?

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat