Global Warming ‘Ancam’ Stok Hasil Laut Asia Tenggara di 2050

Global warming atau pemanasan global mempunyai dampak yang cukup berbahaya, khususnya dalam perubahan iklim yang menyebabkan cuaca tidak menentu dan mencairnya es di kutub. Dampak tersebut disinyalir akan semakin meluas, termasuk merusak ekosistem laut.

Pada laporan hasil penelitian berjudul “Explaining Ocean Warming” yang dipaparkan dalam kongres International Union for Conservation of Nature (IUCN) September 2016 telah mencantumkan ancaman perluasan dampak tersebut.

Laporan yang disusun oleh 80 peneliti dari 21 negara tersebut merupakan meta-analisis dari ratusan ulasan hasil riset ekosistem laut, mulai dari bakteri mikroskopis hingga mamalia laut besar, dan dampak pemanasan global.

“Kita tahu lautan menopang kehidupan planet ini dan menyediakan apa yang kita butuhkan. Sekarang kita membuat lautan kritis,” kata Inger Andersen, Direktur Jenderal IUCN seperti dikutip Science Alert.

Laut merupakan permukaan terluas planet kita. Saat radiasi masuk ke lautan, panas akan cepat menyebar. Sebagian besar panas akan tertinggal di lautan. Semakin panas bumi, lautan pun bakal menyerap panas lebih besar.

Riset mengungkap, sejak tahun 1970-an, laut menyerap 93 persen panas akibat pemanasan global. “Dengan menyerap jumlah panas berlebih dari pemanasan global, mengambil peningkatan emisi karbon secara cepat, lautan menjadi perisai dunia bagi perubahan iklim,” ungkap Inger.

Namun, kemampuan laut menjadi perisai tersebut mempunyai batas tertentu. Panas yang berlebihan, secara perlahan, akan membuat lautan semakin sakit. Laporan IUCN itu memaparkan, bila laju perubahan iklim tak ditahan, maka suhu laut akan terus meningkat dan terumbu karang akan cepat mengalami kerusakan.

Sebagai akibatnya, Indonesia dan wilayah Asia Tenggara lainnya pada tahun 2050 akan kekurangan stok hasil laut. Hasil perikanan di kawasan tersebut diprediksi menurun antara 10 – 30 persen. Selain karena rusaknya terumbu karang, penurunan hasil laut juga akan disebabkan oleh migrasi spesies yang 1,5 kali lebih cepat. Pasalnya, ubur-ubur dan plankton berpindah ke wilayah yang lebih dingin.

Di masa depan, kenaikan temperatur lautan juga akan memicu penyebaran penyakit ke dalam level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Peningkatan panas menyebabkan lautan menjadi penuh dengan mikroba berbahaya. Bakteri kolera dan alga beracun akan makin banyak ditemui diperairan yang lebih hangat. Kemudian, itu mengancam kelangsungan rantai makanan secara global.

Sehingga, bila kini lautan masih berperan sebagai pelindung kita, tetapi di masa depan laut bisa menjadi sumber racun bagi kehidupan di dalamnya, dan juga bagi manusia yang memakan hasil laut. Sementara di belahan bumi lain, peningkatan temperatur lautan pun telah mengancam Antartika. Es yang menyelimuti daerah ini dipastikan akan menghilang. Skenario terburuknya, beruang kutub akan punah dalam 50-70 tahun mendatang.

Tim peneliti berharap, hasil penelitian mereka ini akan meyakinkan industri untuk mengganti teknologinya menjadi lebih ramah lingkungan. “Ini merupakan tindakan konservasi untuk menyelamatkan spesies laut dan ekosistemnya,” ucap Inger.

(Oleh: Ria E. Pratiwi)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat