Cegah Eksploitasi Berlebihan Sumber Daya Laut

Indonesia merupakan negara maritim yang dua per tiga wilayahnya terdiri dari lautan dengan luas kira-kira 5,8 juta km2. Dalam pengelolaannya, perairan Indonesia dibagi dalam sembilan wilayah pengelolaan perikanan dan kelautan dengan penamaan tertentu, misalnya Laut Banda, Laut Arafura, Laut Sulu, Laut Jawa dan seterusnya. Sehingga, potensi sumber daya laut di Indonesia sangat besar, mencakup potensi sumber daya hayati dan non-hayati, serta terdapat keanekaragaman ikan yang tinggi, khususnya ikan-ikan karang yang berjumlah lebih dari 1.650 jenis spesies.

Eksplorasi dan eksploitasi terhadap ikan-ikan laut dan sejenisnya membutuhkan kearifan, sebab meskipun menggunakan teknologi canggih, namun jangan sampai merusak habitat laut. Namun dalam kenyataan saat ini, proses pemanfaatan sumber daya perikanan di Indonesia, khususnya untuk ikan-ikan karang, masih banyak yang tidak sesuai dengan Code of Conduct for Responsible Fisheries.

Hal ini disebabkan makin bertambahnya kebutuhan dan permintaan pasar untuk ikan-ikan karang. Selain itu, pemburu-pemburu ikan seringkali juga membinasakan spesies ikan paus besar, serta menangkapi anjing laut dan penyu secara serampangan. Terumbu karang pun dirusak untuk dibuat cinderamata. Di sisi lain, kapal tanker minyak juga selalu seenaknya membuang limbah yang dapat mencemari lingkungan laut. Minyak dapat menghilangkan daya apung ikan-ikan dan binatang laut sehingga mereka akan mati.

Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO), dalam kondisi sempurna sebenarnya laut itu mampu menghasilkan 100 juta ton ikan setiap tahunnya. Pada 1988, nelayan (di seluruh dunia) dapat menangkap ikan sebanyak 97,4 ton setiap tahunnya. Tetapi, jumlah tersebut menurun dari tahun ke tahun. Penyebabnya bukan karena manusia mengurangi kegiatan menangkap ikan di laut, melainkan karena persediaan ikan yang semakin menipis akibat pengrusakan habitat laut oleh tangan-tangan manusia.

Dalam kondisi yang mengkhawatirkan seperti ini diperlukan beberapa solusi untuk penanggulangan eksploitasi laut yang berlebihan. Antara lain dengan cara-cara seperti berikut:

  • Memberikan peringatan kepada masyarakat tentang bahaya pencemaran dan eksploitasi laut secara berlebihan;
  • Peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat, khususnya nelayan, terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan dari illegal fishing (penangkapan ikan dengan menggunakan alat tangkap yang ilegal);
  • Meningkatkan pengawasan dengan membuat badan khusus yang menangani dan bertanggung jawab terhadap kegiatan illegal fishing;
  • Melakukan penegakan hukum yang tegas terhadap pihak-pihak yang melakukan illegal fishing, supaya ada efek jera terhadap mereka;
  • Menemukan alternatif sumber makanan lain sebagai pengganti ikan laut, supaya bisa lebih dibudidayakan;
  • Melakukan rehabilitasi terumbu karang;
  • Membuat alternatif habitat karang sebagai habitat ikan sehingga daerah karang alami tidak rusak akibat penangkapan ikan;
  • Pemerintah negara-negara di dunia harus mematuhi Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang memberikan perlindungan dan yurisdiksi Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) sampai 322 km dari lepas pantai;
  • Mengelola pantai secara terpadu yang memandang pantai sebagai satu kesatuan dengan laut dan memperhitungkan dampak-dampak dari segala aktivitas di daerah tersebut; dan
  • Mengusulkan perubahan kebijakan perdagangan dan pembangunan yang harus berwawasan lingkungan dan berkelanjutan (sustainable).

(Oleh: Ria E. Pratiwi)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat