Budayakan Hemat Energi Di Rumah Tangga

Kebutuhan energi terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan. Dalam satu dekade terakhir, pertumbuhan konsumsi energi ini meningkat rata-rata sebesar 7% per tahun. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah untuk terus menggalakkan upaya penghematan energi. Sebagai masyarakat pengguna energi, kita pun harus mendukung upaya. Pemerintah dengan cara menggunakan energi secara lebih bijak dan rasional.

 

Efisien Dan Rasional

Penghematan energi merupakan sebuah upaya konservasi energi, yaitu memanfaatkan energi secara efsien dan rasional tanpa mengurangi penggunaan energi yang memang benar-benar dibutuhkan. Dengan kata lain, menghemat energi adalah menggunakan energi secara optimal sesuai kebutuhan sehingga tidak mengurangi produktivitas, keselamatan, dan kenyamanan.

Lebih dari itu, upaya konservasi dengan berhemat energi juga mengajarkan tentang kontribusi, berbagi, dan keadilan. Dengan berhemat energi, kita telah berkontribusi dalam menyediakan akses energi bagi saudara-saudara kita yang berada di pelosok negeri ini sehingga dapat terwujud energi yang berkeadilan.

Dari sebuah studi, diperoleh potensi penghematan terbesar yang bisa dilakukan, yaitu pada sektor pengguna energy terbesar. Adapun pengguna energi terbesar adalah industri (44,2%), transportasi (40,6%), dan rumah tangga (11,4%). Pada ketiga sektor pengguna energi terbesar ini, bisa dilakukan penghematan mulai dari 10—40%.

Maka, sebagai pengguna energi, kita harus menjadikan perilaku hemat energi sebagai bagian dari budaya dan gaya hidup sehari-hari. Dengan begitu, akan tumbuh kepedulian, kesadaran, dan tanggung jawab untuk memanfaatkan energi secara efsien. Lantaran, menghemat 1 KWH jauh lebih murah dan lebih mudah dibandingkan memproduksi 1 KWH.


Lalu, Bagaimana Cara Kita Berhemat Energi?

Kita bisa memulainya dari lingkungan terkecil yang berada di sekitar, yaitu rumah tangga. Tentunya, dengan terlebih dahulu menanamkan kesadaran dan kepedulian untuk berhemat energi. Tak bisa dipungkiri, dalam aktivitas sehari-hari, kita membutuhkan berbagai peralatan untuk memudahkan.

Kebanyakan dari peralatan itu pun menggunakan energi listrik untuk mengoperasikannya. Mulai dari lampu, televisi, mesin cuci, pendingin ruangan (AC), kulkas, setrika, , kipas angin, hingga ponsel pun membutuhkan listrik untuk pengisi dayanya. Penghematan energi bisa dimulai dari cara kita menggunakan peralatan elektronik tersebut. Misalnya saja, mesin cuci.

Sebaliknya, jika kapasitas terlalu sedikit, menjadi tidak efsien karena daya listrik yang digunakan sama. Jika memungkinkan, kurangi penggunaan pengering. Sebagai gantinya, kita bias lakukan pengeringan secara alami dengan menjemur pakaian di bawah panas matahari.

Kemudian, untuk pendingin ruangan, aturlah suhunya sesuai kebutuhan, sekitar 24—27 derajat Celcius. Semakin kecil suhunya, semakin besar konsumsi listriknya. Gunakanlah kapasitas AC sesuai dengan volume ruangan. Pastikan pintu dan jendela dalam keadaan tertutup saat AC menyala serta gunakan pengatur waktu (timer) untuk mengatur pemakaian AC. Yang terpenting, matikanlah AC bila ruangan tidak digunakan.

Untuk kulkas, pastikan pintu kulkas selalu tertutup rapat dan janganlah terlalu sering membuka pintu kulkas karena bias menyebabkan suhu di dalam kulkas meningkat. Isilah kulkas secukupnya dan tidak memasukkan bahan-bahan yang masih panas ke dalam kulkas. Bahan panas menyebabkan kulkas
memerlukan energi lebih besar untuk mendinginkannya.

Letak kulkas juga bisa berpengaruh terhadap besar kecilnya konsumsi energi listrik. Sebaiknya, letakkan kulkas jauh dari sumber-sumber panas, seperti kompor ataupun paparan sinar matahari. Jangan letakkan kulkas terlalu rapat ke dinding sehingga tersedia cukup ruang untuk pendinginan kondensor.

Tak hanya bijak dalam menggunakan peralatan elektronik, penghematan energi juga bisa diterapkan pada pencahayaan rumah. Misalnya, dengan memilih lampu hemat energi dan mengurangi pemakaian lampu pijar. Lampu juga harus dibersihkan secara berkala. Biasakan, untuk mematikan lampu bila ruangan tidak digunakan.

Pemakaian lampu juga bisa dikurangi dengan merancang rumah yang hemat energi. Di antaranya, merencanakan pencahayaan dan ventilasi yang baik sehingga dapat mengurangi pemakaian lampu dan AC ataupun kipas angin. Gunakan cat warna terang/cerah untuk interior rumah karena warna cerah tidak menyerap cahaya lampu. Pemilihan bahan dan bentuk atap rumah juga bias berperan dalam penghematan energi. Sebaiknya, dipilih bahan/bentuk atap yang dapat menahan panas pada siang hari dan menahan dingin pada malam hari.

Manajemen Energi

Selain melakukan penghematan, kita juga bisa menerapkan manajemen energi di rumah. Hal ini bisa dimulai dengan mencatat detil penggunaan peralatan elektronik di rumah. Pencatatan mencakup kebutuhan energi (konsumsi daya) dari setiap peralatan elektronik, waktu operasi, dan kondisi operasi.

Sebaiknya, kita mengetahui kondisi operasi dari setiap peralatan yang ada di rumah, terutama untuk alat
elektronik listrik dinamis. Misalnya saja, AC, penanak nasi, dan pemanas air yang konsumsi dayanya berubah berdasarkan kondisi/kinerja operasinya. AC membutuhkan daya yang berbeda saat pertama kali dinyalakan dengan ketika sudah lama menyala. Begitu pula penanak nasi, mengonsumsi jumlah daya yang berbeda saat berada pada mode heating dan mode keep in warm.

Kemudian, kita juga perlu untuk melakukan evaluasi pemakaian listrik dan mengetahui sektor yang mengonsumsi daya cukup besar. Dari hasil evaluasi tersebut, kita bias melakukan beberapa rekomendasi. Di antaranya, dengan menetapkan prioritas, seperti menyalakan lampu yang bias menerangi dua ruangan sekaligus; meminimalkan waktu penggunaan dengan mengatur waktu (timer), seperti AC dan televisi; serta mengganti peralatan elektronik yang mengusung teknologi “hemat energi”.

 

(Terbit Edisi 1 Tahun 2018, DItjen EBTKE, Kementerian ESDM)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat