BJ Habibie Sang Figur Bangsa

Laki-laki kebanggaan Bangsa Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie menjadi ikon kecerdasan putra-putri bangsa.

Siapa yang tak mengenal sosok Mantan Presiden RI Ketiga, Si Jenius ilmuwan konstruksi pesawat terbang Prof. Dr. -Ing. Dr. Sc. H.C. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie yang menjadi ikon kecerdasan dan kebanggaan bangsa. Harum namanya diakui di bumi pertiwi dan sejumlah pemimpin negara asing. Identik dengan kejeniusannya, Habibie pun dianugerahi sebagai Bapak Teknologi Indonesia. Sebagai Bapak Teknologi, Habibie memang diakui dengan keahliannya di bidang engineering. Track record-nya sebagai figur hebat dalam bidang teknologi telah dibuktikan dengan kualitas dirinya sebagai pemegang 46 paten aeronautika.

Di bidang aeronautika, Habibie menemukan solusi pada permasalahan pada bodi pesawat terbang. Temuannya tersebut dikenal dengan titik crack atau keretakan yang terjadi di bodi pesawat. Pada titik crack inilah yang menyebabkan kecelakaan pesawat terbang sering terjadi pada awal 1960-an.

Habibie datang bak pahlawan yang memecahkan solusi pada titik crack tersebut. Ia menemukan bagaimana rambatan titik crack itu bekerja. Perhitungannya sungguh rinci, sampai pada hitungan atomnya. Oleh dunia penerbangan, teori Habibie ini diakui dan dinamakan crack progression. Dengan temuannya, Habibie pun dijuluki Mr. Crack. Selain teori crack­­-nya, beberapa rumusan teorinya juga dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti “Habibie Factor“, “Habibie Theorem” dan “Habibie Method”.

Profil BJ Habibie

Habibie lahir 25 Juni 1936 di Pare-Pare, Sulawesi Selatan ini menjadi Wakil Presiden RI ke-7 selama 2 bulan dan menjadi Presiden ke-3 Indonesia selama kurang lebih satu tahun. Sejak kecil, Habibie telah menunjukkan kecerdasan dan semangat tinggi pada ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya Ilmu Fisika. Ia kuliah di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) selama enam bulan, dan dilanjutkan ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule – Jerman pada 1955. Tidak tanggung-tanggung, ia pun menghabiskan waktu 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 di Aachen-Jerman.

Habibie melanjutkan program doktoral setelah menikahi teman SMA-nya, Hasri Ainun Besari pada 1962. Bersama dengan istrinya tinggal di Jerman, Habibie harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya dan biaya kuliah. Pada 1965, Habibie pun menyelesaikan studi S-3 nya dan mendapat gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan indeks prestasi summa cum laude.

Segudang Prestasi

Begitu banyak kesuksesan yang telah ia torehkan dengan tinta emas untuk Bangsa Indonesia ini. Setiap kesuksesannya selalu mengedepankan kepentingan banyak orang. Sehingga tak heran jika sosoknya begitu dikagumi oleh banyak pihak baik kawan maupun lawan.

Setelah lulus, Habibie bekerja di Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) Hamburg pada 1965-1969 sebagai Kepala Penelitian dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang. Pada 1969-1973, beliau menjabat Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB. Atas kinerja dan kebriliannya, empat tahun kemudian, ia dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB serta menjadi Penasehat Senior di bidang teknologi untuk Dewan Direktur MBB (1978). Patut dibanggakan, ia menjadi satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki jabatan nomor dua di perusahaan pesawat terbang Jerman yang bergengsi tersebut.

‘Gatotkoco’ Karya Habibie

Habibie menuliskan nama harumnya ketika ia berhasil mengoperasikan Pesawat N-250 “Gatotkoco” dari Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN), kini menjadi PT Dirgantara Indonesia. Melalui Pesawat N-250, ia membawa nama bangsa sehingga mampu bersaing di kancah penerbangan dunia internasional. Pesawat N-250 ini merupakan produk pesawat terbang primadona hasil produksi anak-anak bangsa. Saat diluncurkan pada 1995, N-250 dirancang untuk mampu menampung 50-70 penumpang dan dengan keunggulan yang dimilikinya. Pesawat ini pun menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng.

Begitu banyak kisah inspiratif dan prestasi yang ditorehkan dari sosok BJ Habibie. Namun demikian, semoga Indonesia melahirkan kembali para generasi seperti Habibie yang dapat mengharumkan dan membanggakan negeri ini.

 

(Oleh: Novita Puspa)

 

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat