Bangunan Hemat Energi di Indonesia

Penghematan energi bisa dilakukan lewat berbagai cara, diantaranya dengan merancang bangunan hemat energi. Rancangan bangunan hemat energi terutama mengarah pada penghematan penggunaan listrik, baik  pendinginan udara, penerangan buatan, maupun peralatan listrik lain. Dengan strategi perancangan tertentu, bangunan dapat memodifikasi iklim luar yang panas atau dingin menjadi iklim ruang yang nyaman tanpa banyak mengonsumsi energi listrik. Kebutuhan energi per kapita dan nasional dapat ditekan jika secara nasional bangunan dirancang dengan konsep hemat energi semacam ini.

Diantara contoh rancangan bangunan hemat energi yang ada di Indonesia yaitu bangunan Gedung Publik II Bio Farma. Bentuk langkah-langkah untuk melakukan penghematan energi di Gedung Publik II Bio Farma ini adalah dengan memanfaatkan sinar matahari lewat penggunaan solar cell, untuk pengendalian konsumsi energi listrik dengan pemilihan pembebanan dan sistem pencahayaan. Seperti penggunaan lampu LED dengan penggunaan sensor gerak (motion detection sensor) untuk mengaktifkannya.

Hemat 40 persen

Kepala Divisi Teknik dan Pemeliharaan Bio Farma (Persero) Tommy Zulfikar mengatakan, selain menggunakan lampu LED yang dapat menghemat penggunaan listrik sebesar 40 prsen, pencahayaan gedung mengoptimalkan perolehan cahaya alami. Sehingga dapat mengurangi penggunaan pencahayaan buatan di siang hari. Hal tersebut dilakukan dengan sistem zonasi yang terpisah antara pencahayaan buatan dan pencahayaan alami.

“Dengan mengaplikasikan fitur-fitur hemat energi tersebut, Gedung Publik II dapat melakukan penghematan energi sebesar 1,500 kWh/bulan dari penggunaan solar cell, dan dari penggunaan solar sell dapat dilakukan penghematan sebesar 4,880.96 kWh/bulan,” ungkap Tommy.

Dengan demikian, melalui perencanaan dengan pendekatan rancangan pasif dan rancangan aktif, desain Intensitas Konsumsi Energi (IKE) pada Gedung Publik II Bio Farma sebesar 114.48 kWh/m2 per tahun, lebih hemat sebesar 56.87 persen dari rata-rata konsumsi gedung-gedung kantor sebesar 160 kWh/m2 per tahun.

Selain penggunaan solar cell dan LED lighting Gedung Publik II Bio Farma yang memiliki luas bangunan 10.000 m2 dan enam lantai  ini juga dibangun dengan konsep green building yang memiliki system cross ventilation (dinding terbuka). Implementasi green office yang dilaksanakan Bio Farma, merupakan penyesuaian terhadap tantangan yang dihadapi industri farmasi secara global. Mereka mendapatkan tantangan untuk menyajikan sesuatu yang lebih hijau.

Direktur Produksi Bio Farma Juliman Fuad mengatakan “Kami berpandangan bahwa di masa yang akan datang, industri farmasi akan dihadapkan dengan masalah lingkungan, karena lingkungan yang ada sekitar perusahaan adalah benteng pertama yang akan terkena dampak dari kegiatan produksi”, ungkapnya.

Juliman menambahkan, Bio Farma sebagai produsen vaksin sudah menerapkan sistem green process dalam setiap aktivitasnya. Tidak hanya diterapkan pada unit kerja yang berhubungan dengan produksi saja, tetapi diterapkan juga pada unit kerja administrasi, sehingga tercipta suatu green habits.

Dan dalam perjalanan berikutnya ternyata tidak hanya penghematan energi yang diperoleh tetapi juga penghargaan. Tercatat Gedung Publik II Bio Farma menyabet peringkat pertama Penghargaan Efisiensi Energi Nasional (PEEN) 2014. Bahkan di tahun sebelumnya yaitu 2013, Bio Farma juga berhasil mendapatkan penghargaan `Inovasi Hemat Energi`.

Bangunan lain yang juga termasuk hemat energi adalah The Breeze BSD City. Sang pengembang properti Sinar Mas Land memang merancang The Breeze BSD City, sebagai pusat lifestyle pertama di Indonesia menggunakan desain hemat energi. Lifestyle center yang terletak di kawasan BSD Green Office Park-BSD City ini, hadir dengan konsep baru yakni, open air lifestyle.

Ishak Chandra Managing Director Corporate Strategy and Services Sinar Mas Land mengatakan, mal tanpa dinding tersebut dibangun dengan mengacu pada pentingnya pelestarian lingkungan yang selama ini telah menjadi komitmen Sinar Mas Land. Di areal The Breeze ini aspek alami seperti danau dan taman-taman hijau dipadukan dengan arsitektur sebuah lifestyle center. Berikutnya, prestasi pun diraih yaitu peringkat tiga penghargaan PEEN 2014 kategori gedung hemat energi.

Pemanfaatan Pasif

Sementara terdapat pula bangunan-bangunan lain yang juga mengarah kepada penghematan energi. Pada bangunan tersebut energi matahari dimanfaatkan secara pasif untuk mengantisipasi permasalahan iklim luar. Jadi seandainya udara luar sedang panas terik begitu memasuki bangunan ini udara kontan terasa sejuk.

Strategi perancangan bangunan semacam ini di Indonesia bisa dijumpai terutama pada bangunan lama diantaranya karya Silaban: Masjid Istiqal dan Bank Indonesia; karya Sujudi: Kedutaan Prancis di Jakarta dan Gedung Departemen Pendidikan Nasional Pusat; serta sebagian besar bangunan kolonial karya arsitek-arsitek Belanda. Beberapa bangunan modern di Jakarta juga tampak diselesaikan dengan konsep pemanfaatan energi matahari secara pasif tersebut, seperti halnya Gedung S Widjojo dan Wisma Dharmala Sakti, keduanya terletak di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta.

Perancangan sinar matahari secara pasif di wilayah tropis basah seperti Indonesia umumnya dilakukan untuk mengupayakan bagaimana pemanasan bangunan karena radiasi matahari dapat dicegah, tanpa harus mengorbankan kebutuhan penerangan alami. Sinar matahari yang terdiri atas cahaya dan panas, dibuat sedemikian rupa sehingga komponen cahayanya dimanfaatkan sekaligus ditepis panasnya. (Oleh: Nur Fitrianto)

integriti

Berikan Komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat